- Kejahatan Bersenjata Sudah Keterlaluan
- 10 Tahun Tanpa Piala Thomas
- Grasi untuk Corby
- Kita Antar Kepergian Korban SSJ-100
- Jangan Salahkan Reformasi
- Wanadri Taklukkan Everest
- Menggelorakan Kebangkitan Nasional
- Hiburan Istimewa di Akhir Pekan
- Pengetatan Vs pelonggaran Ekonomi
- Menghentikan Kebiasaan Tawuran
- Bukan Republik Ormas
- Awas Pemborosan Anggaran
- Mengungkap Misteri Jatuhnya SSJ-100
- Tantangan Program Hilirisasi Industri
- Luar Biasa Kerja Tim SAR
Kecelakaan yang Memilukan
Minggu, 12 Februari 2012 18:24 WIB
SEBUAH kecelakaan maut kembali terjadi. Di Cisarua, Bogor, hari Sabtu lalu bus Karunia Bakti jurusan Garut-Jakarta blong remnya dan kemudian melaju tanpa kendali. Bus kemudian menabrak beberapa mobil yang ada di depannya, menyeret sebuah motor, dan kemudian menabrak warung bakso sebelum terjun ke daerah yang 10 meter lebih rendah.
Sebanyak 14 orang tewas dalam kecelakaan tersebut dan beberapa lainnya mengalami luka-luka. Kecelakaan ini menarik perhatian masyarakat, karena belum lagi kita lupa akan kecelakaan maut yang terjadi di Tugu Tani, Jakarta, yang mengakibatkan sembilan orang tewas.
Berbeda dengan kecelakaan di Tugu Tani di mana kendaraan yang menjadi penyebab kecelakaan adalah mobil pribadi, kecelakaan yang terjadi di Cisarua, kendaraan yang menjadi penyebab adalah kendaraan umum. Ironisnya, supir bus masih sempat menyelamatkan diri, sementara penumpang dan pengguna jalan lainnya menjadi korban.
Berbagai kecelakaan maut yang terjadi, khususnya terakhir ini, sepantasnya membuat kita segera berbenah diri. Sudah begitu banyak kecelakaan yang terjadi di jalan raya dan menimbulkan korban yang tidak sedikit.
Sayangnya, kita hanya tersentak ketika kecelakaan itu terjadi. Setelah itu kita kembali kepada kebiasaan kita untuk mudah alpa dan tidak memperhatikan faktor keselamatan. Kecelakaan dan korban jiwa hanya dianggap sebuah angka statistika biasa dan tidak pernah membangkitkan keinginan untuk memperbaiki diri.
Kita sungguh merasa prihatin ketika semua kegiatan hanya dilihat dari kepentingan ekonomi semata. Kalau kita diingatkan oleh para pemuka agama bahwa bangsa ini telah terjebak pada persoalan kebendaan semata, itu tidaklah keliru.
Lihatlah pada transportasi umum yang disediakan untuk masyarakat banyak. Perusahaan yang terjun ke dalam bisnis transportasi, jarang mempedulikan tentang pelayanan yang mereka berikan. Yang dipikirkan oleh pemilik hanyalah bagaimana investasi yang telah ditanamkan bisa cepat kembali dan memberikan untung.
Dengan sikap seperti itu tidak usah heran apabila perawatan kendaraan selalu dinomorduakan. Ibaratnya, sepanjang masih bisa menjalani trayek dan menghasilkan uang, kendaraan dipacu untuk bisa mengangkut penumpang.
Kecelakaan yang dialami bus Karunia Bakti tidak mungkin terjadi kalau perawatan kendaraan dilakukan secara rutin. Perawatan kendaraan yang dilakukan secara berkala pasti akan bisa mendeteksi lebih dini suku cadang yang harus segera diganti. Tidak mungkin tiba-tiba rem blong tanpa diketahui lebih dulu.
Namun meski kecelakaan seperti ini terus terjadi, tidak pernah bisa kita lalu membuat menjadi lebih baik. Kalau pun dilakukan koreksi, kita hanya melakukan kepada supir. Seakan-akan kesalahan itu terjadi karena kelalaian supir.
Padahal seharusnya kita melihat dari keseluruhan sistem. Supir hanya salah satu bagian dari sistem transportasi umum. Untuk keselamatan perjalanan ada bagian lain yang ikut berperanan seperti bagian pemeliharaan. Pihak manajemen perusahaan juga ikut berperan untuk bisa membuat seluruh sistem berjalan seperti yang diharapkan.
Profesionalisme dari perusahaan angkutan umum inilah yang seringkali lolos dari perhatian kita. Padahal penentuan penunjukan supir berada di tangan manajemen. Seperti apa keterampilannya mengendarai bus dan sejauh mana pemahamannya akan tanggung jawab membawa penumpang, berada di tangan manajemen.
Saatnya bagi Kementerian Perhubungan melakukan audit total terhadap perusahaan angkutan umum yang ada. Harus ada standar yang ditetapkan tentang perusahaan yang bergerak dalam bisnis ini dan standar untuk supir-supir yang mengendarai kendaraan angkutan umum.
Bahkan di banyak negara, standar industri untuk kendaraan umum dibuat khusus untuk mencegah jangan sampai supir kendaraan umum bisa ugal-ugalan. Penempatan supir bus umum di bawah seperti kendaraan lainnya dimaksudkan untuk membuat supir lebih berhati-hati.
Sepanjang kita tidak pernah melakukan pembenahan yang sungguh-sungguh, maka tidak usah heran apabila kecelakaan lalu lintas masih akan terus terjadi. Kita harus berani untuk bertindak karena sudah terlalu banyak kecelakaan yang terjadi di jalan raya.
Enough is enough, itulah yang seharusnya menjadi kesadaran kita bersama. Jangan biarkan jalan raya menjadi tempat "pembunuhan". Sepanjang jalan raya diserahkan kepada orang-orang yang tidak menyadari arti keselamatan jiwa, jalan raya akan menjadi tempat yang menakutkan.


Sepakat, bung. #ma'af sebelumnya. Kecelakaan lalin itu bukan sepenuhnya kesalahan si Sopir. Tapi bisa jadi karena adanya kontra dari sebuah sistem. Sistem yang terbentuk dari sebuah korporasi penguasa (baca:pengusaha). Antara sistem=lalin, sekiranya bukanlah hal yang langsung dipertanyakan. Karena sistem pasti menginginkan adanya profit (yang didapatkan dengan tidak melakakukan re-servis). Adanya teknologi yang efisien tentu akan mengurangi dampak lalin. Di sisi lain, kesemua hal itu memberikan hikmah tersendiri bagi masyarakat secara umum maupun pemerintah khususnya. Sebab, menjadikan para unggawa tersebut akan bergerak untuk melukan perbaikan (baca:pencitraan) di hadapan publik. Berdasarkan info yang pernah saya dengar dari salah seorang Sopir bus menuturkan bahwa sebenarnya kecelakaan bukan sepenuhnya kesalahan sopir (sama-sama cari nafkah). Tetapi jika ada pergantian bus paling tidak 4 dan/ atau 5 tahun sekali tentu tidaklah terjadi demikian. Sopir tersebut mencontohkan, masih diperbolehkan beroperasi angkot, colt yang keluaran tahun lama. Padahal, asapnya tidak baik untuk kesehatan. Dari situ saya berpikir, seandainya semua sopir seperti bapak ini, tentu angka kecelakaan akan berkurang. Tapi juga berpikir lagi, jika kecelakaan berkurang dan tidak ada kejahatan lantas aparat kepolisian tentu tidak akan bergerak.