Al Quran dan Bumi Manusia
Metro Kolom | Minggu, 7 Agustus 2011 11:44 WIB
Setiap Ramadan di berbagai masjid selalu diadakan peringatan Nuzulul Quran, peristiwa turunnya Al Quran. Tentu Al Quran turun ke bumi tidak seperti turunnya hujan dari langit, karena langit itu sendiri pengertiannya banyak mengingat bumi itu bulat dan hanya sebagian kecil saja dari miliaran planet yang mengapung di alam semesta. Jadi, kalau dikatakan Al Quran itu turun dari langit, langit manakah yang dimaksud, sulit dijawab secara ringkas.
Peristiwa Nuzulul Quran mungkin mirip dengan Isra’- Mi’raj, yaitu peristiwa ruhani yang hanya dialami oleh pribadi Muhammad sendiri. Sementara para sahabat tidak ikut terlibat di dalamnya. Para sahabat hanya mendengar ceritanya lalu meyakininya. Ini berbeda dari hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah yang merupakan peristiwa historis-empiris yang bisa disaksikan dan diikuti oleh para sahabat beliau.
Al Quran turun pun tidak dalam bentuk lembaran kertas penuh tulisan yang jatuh berhamburan di muka bumi lalu dipungut oleh Rasulullah. Tidak juga malaikat Jibril menyerahkan bundelan kitab yang dapat diraba dan dipegang. Tetapi Al Quran turun pada bumi manusia, dengan lokus ataupun perantara Muhammad seorang diri. Ini merupakan peristiwa ruhani yang Muhammad sendiri sulit menjelaskan, bahkan pada awal mulanya ketakutan ketika makhluk spiritual bernama Jibril menemui di gua Hira.
Jadi, yang dituju oleh Nuzulul Quran adalah bumi manusia, yaitu hati dan pikiran manusia itu sendiri agar pesan dan petunjuk Al Quran direnungkan, difahami, dinalar dan selanjutnya masuk menjadi keyakinan dan pada urutannya menggerakkan dan membuahkan perbuatan baik atau amal saleh. Bahwa setiap Ramadan diadakan peringatan awal turunnya wahyu Al Quran, itu sangat bagus agar umat Islam semakin akrab dan semakin mencintai Al Quran. Namun, yang paling mendasar dari peringatan itu adalah apakah pesan dan semangat Al Quran nuzul pada hati dan pikiran kita ataukah tidak.
Al Quran sendiri menamakan dirinya dengan beragam nama dan fungsi, namun yang terkenal adalah sebagai hudan atau petunjuk jalan kebenaran dan kebaikan. Dalam tradisi hermeneutik, sebuah petunjuk akan berfungsi dengan mengandaikan beberapa syarat. Pertama, seseorang mesti faham apa yang dikandung oleh petunjuk itu. Misalnya saja, ketika ke Jepang saya tiba-tiba menjadi buta huruf ketika dihadapkan dengan beberapa keterangan dan petunjuk jalan dalam huruf kanji dan bahasa Jepang. Jadi, demikian juga halnya apa yang dikandung Al Quran ketika seseorang tidak mampu membaca dan menangkap pesannya maka petunjuk itu tidak berfungsi.
Kedua, ibarat petunjuk jalan, kalau seseorang faham tetapi tidak mau mentaati atau dihadapkan pada situasi yang menghalangi, maka lagi-lagi petunjuk itu tidak mengantarkan seseorang pada sasaran yang dituju. Ketiga, ibarat resep dokter, kalau seseorang tidak disiplin mengikuti petunjuknya agar memakan obat serta menjaga gaya hidup sehat, maka sulit baginya untuk hidup sehat.
Jadi, Al Quran sebagai petunjuk jalan kebenaran dan kebaikan pada implementasinya dikembalikan pada umat Islam sendiri, apakah benar-benar memahami dan mampu melaksanakan ataukah tidak. Bahwa membacanya berpahala, memang itu dibenarkan oleh Rasulullah. Bahwa peringatan Nuzulul Quran itu bagus, itu sudah pasti sebagai tanda cinta umat Islam pada kitab sucinya.
Heart, Head, and Hand
Agar Al Quran mencapai sasarannya dan nuzul atau turun pada bumi manusia dan berfungsi membawa rahmat bagi kehidupan manusia, tidak saja bagi umat Islam, maka syarat pertama seseorang haruslah mensucikan hatinya (clean heart). Orang yang hatinya tidak bersih, Al Quran sulit untuk masuk. Demikianlah bunyi salah satu ayat Al Quran. Selama Ramadan dengan banyak memperbanyak ibadah mendekatkan diri pada Allah, memohon ampunan dan berbuat baik pada sesama semoga hati seorang mukmin akan kembali menjadi bersih, sehingga Al Quran bisa nuzul ke hatinya.
Kedua, tanpa pikiran kritis dan selalu ingin berdialog secara cerdas dengan Al Quran, maka Al Quran seakan bisu tidak banyak berbicara pada kita. Sebuah teks akan berbicara dan mengajari kita kalau kita senang bertanya, berdialog dan menangkap kandungannya. Makanya ummat Islam mesti menggunakian nalar kritis dalam membaca Al Quran. Itulah salah satu keunikan dan keunggulan mukjizat Al Quran yang menantang dan sekaligus membimbing penalaran (head) manusia.
Ketiga, setelah menggunakan heart dan head dengan benar dan optimal, maka selanjutnya seorang Muslim haruslah mengimplementasikan dalam karya dan tindakan nyata dengan hand, sehingga buah dari kecintaan dan pemahamannya pada Al Quran membuahkan amal saleh, yaitu karya nyata yang benar dan bermanfaat bagi umat manusia.
Semasa Rasulullah, masyarakat Arab padang pasir yang dikenal jahiliyah dan senang berperang, dengan bimbingan Al Quran, hati, pikiran dan perilakunya dipandu oleh Al Quran, sehingga dalam waktu singkat terjadi revolusi peradaban. Al Quran benar-benar nuzul pada hati dan pikiran mereka yang kemudian mendorong perubahan sosial, dari kehidupan yang tidak beradab menjadi beradab, hidup yang semula senang berperang lalu berubah manjadi senang ilmu dan perdamaian. Itulah salah satu pesan Nuzulul Quran yang mesti kita gali, renungkan dan amalkan.
Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Selasa, 3-Agustus-2011
Heart= membernarkan ajaran al-Quran dg hati, Head= kebenaran al-Quran harus mampu diserap melalui akal dan Hand= Semuanya hrs direalisasikan olh anggota badan dlm amaliah nyata. Satu hal yg hrs difahami bahwa ajaran al-Quran hrs dilaksanakan olh individu (ibadah mahdhoh), olh jama'ah (mu'amalah) dan yg paling utama ajaran al-Qur'an wajib dilaksanakan oleh negara dalam bidang siyasah (politik) yg mencakup politik ekonomi islam, politik pendidikan islam, politik luar negeri islam, politik pengelolaan SDA yg islami, dll. Dalam tataran politik inilah islam dikerdilkan, ajaran al-Qur'an dikangkangi olh sistem politik KAPITALIS-DEMOKRASI. Kesimpulannya ajaran al-Qur'an yang sempurna itu hrs diemban olh NEGARA untuk kebangkitan dan kesejahteraan seluruh umat MANUSIA.
Jumat, 6-Agustus-2011
saya setuju dg ulasan yg sangat bagus, dan pada hakekatnya memang demikianlah seharusnya sebagai konsekwensi manusia adalah ciptaanNYA. DAN yg perlu di ingat '' BAIK BURUKNYA DUNIA tergantung dari MANUSIANYA'' menuju SURGA atau NERAKA tergantung MANUSIANYA sendiri
Jumat, 6-Agustus-2011
al qur`aan di lisan,al qur`aan di hati....niscaya ia benar-benar jadi pegangan yang ak pernah berdusta...Jayalah hidup dengan al qur`aan,bukan begitu pa?
Rabu, 4-Agustus-2011
Al-qur'an merupakan kumpulan2 wahyu allah, kebenarnya mutlak adanya dan bagi yang membacanya bernilai ibadah, luar biasa. Al-qur'an bagi orang yang beriman tidak meragukan, jika demikian? lalu apa yang membuat manusia berbuat kerusakan dan pertumpahan darah dibumi ini. Kenapa kita merasa angguh untuk kemabali pada ajaran islam yang termaktub dalam al-qur'an yang sungguh jelas, mulai dari masalah yang terkecil sampai pada persolan yang besar. sehingga tidak salah jika al-qur'an mendefinisikan manusia adalah makhluk melampui batas. Oleh karena, kepada gerasi tua sebagai penyambung lidah kepada generasi mudah agar al'qur'an membumi di nusantara ini. Allahhuakbar.......
Rabu, 4-Agustus-2011
Alhamdulillah....
Terimakasih atas pencerahannya Abah....hehehe