Metrotvnews.com, Kediri: Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Haji Said Aqil Siroj mengaku sangat kehilangan KH Imam Yahya Mahrus. Imam selama ini dikenal sebagai salah satu aktivis militan NU.
"Kami merasa sangat kehilangan. Beliau adalah aktivis, pejuang, yang sangat militan. Beliau juga ulama NU," kata Said ketika ditanya tentang sosok Imam, pemimpin Pondok Pesantren Lirboyo, yang meninggal di Ponpes Salafiyah Al Mahrusiyah di Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Ahad (15/1).
Ia mengatakan, kedatangannya ke rumah duka sebagai wujud kepedulian dari NU. Selain itu, kedatangannya juga sebagai penghormatan terakhir kepada almarhum.
Ia juga menyebut, Imam adalah sosok yang sangat rendah hati (tawadu). Bahkan, saat pertemuan dengan para kiai pun, ia enggan duduk di bangku paling depan.
"Beliau tak pernah mau duduk di bangku paling depan, dan selalu duduk di bangku belakang. Bahkan, beliau juga tak pernah panggil nama saya, justru memanggil dengan sebutan Kang, padahal saya ini adiknya," ucapnya.
Ia berharap, arwah Imam tenang di sisi-Nya, semua dosanya diampuni, dan ia meninggal dengan "khusnul khotimah". Ia juga berharap, warga NU melakukan salat gaib untuk mendoakan arwah Imam.
Sejumlah keluarga dan para tamu undangan menangis saat jenazah diberangkatkan dari tempatnya disemayamkan, musala PP Salafiyah Al Mahrusiyah di Lirboyo. Jenazahnya memang ditempatkan di sana, agar para tamu, santri, bisa melakukan salat jenazah.
Ribuan orang juga hadir sebagai penghormatan terakhir dari almarhum. Bahkan, shalat jenazah pun dibuat bergelombang, sampai 31 kali, yang dilakukan di musala serta masjid utama di PP Lirboyo.
Sejumlah kiai dari berbagai daerah di Indonesia juga hadir sebagai bentuk penghormatan terakhir, di antaranya KH Nur Huda Djazuli dari Ploso, Kabupaten Kediri, KH Aziz Mansur dari Jombang, serta sejumlah kiai lainnya.
Kegiatan salat jenazah dipimpin para kiai yang hadir. Setiap kali salat tak kurang diikuti oleh 200 orang.
Selain dihadiri para kiai, sejumlah tokoh serta muspida Kota Kediri juga hadir, seperti Wakil Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, Kepala Polres Kediri Kota AKBP Ratno Kuncoro, serta sejumlah tokoh lainnya, termasuk mantan Wali Kota Kediri H A Maschut.
Imam wafat setelah sempat dirawat di Graha Amerta, yang merupakan unit khusus di RSU dr Soetomo Surabaya, Sabtu (14/1) malam, sekitar pukul 20.30 WIB, akibat sakit yang dideritanya. Ia dimakamkan di Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, sesuai dengan wasiatnya.
Kondisi kesehatan dari Rektor Kampus IAIT Kota Kediri itu memang buruk sejak satu tahun terakhir, sudah sering masuk dan keluar rumah sakit. Ia menderita komplikasi penyakit di antaranya tumor paru, diabetes, dan paru-paru basah. KH Imam Yahya meninggalkan seorang istri bernama Nyai Zakiyah serta enam orang anak.(Ant/ICH)
Minggu, 15-Januari-2012
inalilahi waina ilaihi rojiun smoga Allah mengapuni sgala dosa dan ksalahan beliau dan keluarga yg di tinggalkan tetap tabah.