Anak Lebih dari 1, Ibu di China Kena Denda

Internasional | Kamis, 9 Februari 2012 03:20 WIB

Metrotvnews.com, Guangdong: Pemerintah Provinsi Guangdong, China, mengancam akan memberikan sanksi denda bagi para orang tua jika mempunyai anak lebih dari satu. Selain itu, bila mereka bekerja sebagai pegawai negeri maka para orang tua terancam diberhentikan.

Menurut surat kabar China Daily, aturan itu juga berlaku meskipun bayi dilahirkan di Hong Kong. Pejabat keluarga berencana Provinsi Guangdong, Zhang Feng, mengatakan orang tua akan dikenai denda bila melanggar ketentuan pembatasan anak di manapun lokasi kelahirannya.

Peringatan ini dikeluarkan sebagai upaya untuk menekan ibu-ibu dari Cina daratan yang sengaja bepergian ke Hong Kong untuk melahirkan. Cara tersebut biasanya dilakukan guna menghindari kebijakan pembatasan anak di daratan Cina.

Peringatan pejabat Guangdong terjadi setelah warga Hong Kong menerbitkan iklan satu halaman penuh berisi antara lain menyebut warga Cina daratan sebagai "belalang".

Meski Hong Hong merupakan bagian dari China, Hong Kong mempunyai peraturan sendiri.

"Oleh karena itu, ada begitu banyak ibu hamil yang ingin sekali melahirkan di sini. Hampir separuh jumlah bayi yang dilahirkan di Hong Kong tahun lalu berasal dari orang tua yang bermukim di Cina daratan," kata wartawan BBC Hong Kong, Juliana Liu.

Perjalanan yang disebut sebagai "tur melahirkan" ke Hong kong belakangan semakin populer di kalangan para orang tua yang menginginkan anak lebih dari satu.

Kenaikan jumlah ibu-ibu dari Cina yang melahirkan di Hong Kong, telah menyebabkan kemarahan besar di wilayah bekas jajahan Inggris itu.

Pemerintah Hong Kong telah menerapkan kuota jumlah ibu-ibu hamil dari Cina daratan yang boleh melahirkan di rumah sakit-rumah sakit setempat. Namun warga Hong Kong berpendapat pembatasan kuota saja tidak efektif.

Persoalan ini bahkan menyulut sentimen anti-Cina secara umum. Beberapa anggota parlemen Hong Kong berusaha mengubah peraturan keimigrasian guna mempersulit ibu-ibu hamil dari daratan Cina untuk melahirkan di Hong Kong. (BBC/Wrt3)



cbn

Artikel Terkait
Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
Kode Keamanan: