Laba Bersih AirAsia Jatuh Hampir Setengah

Ekonomi - | Rabu, 22 Februari 2012 22:30 WIB

Metrotvnews.com, Kuala Lumpur: Maskapai penerbangan berbiaya murah terbesar di Asia Tenggara, AirAsia, Rabu (22/2), melaporkan penurunan laba bersih 2011 hampir setengahnya. Merosotnya pendapatan ini diakui karena harga bahan bakar minyak yang tinggi, meski tetap membukukan rekor pendapatan.

Perusahaan penerbangan asal Malaysia itu membukukan pendapatan sebesar 4,47 miliar ringgit (1,48 miliar dolar AS) untuk 2011, naik 13 persen dari 2010. Dalam laporannya ke bursa Malaysia, laba bersih untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2011 adalah 564,1 juta ringgit, dibandingkan 1,06 miliar ringgit pada 2010.

Kepala Eksekutif AirAsia, Tony Fernandes mengatakan, hasil positif diberikan lingkungan global yang menantang. Dia mengatakan, hilangnya laba bersih ini terutama disebabkan belum direalisasikannya rugi kurs valuta asing dan pajak ditangguhkan.

"Hasil setahun penuh kami menunjukkan bahwa kami berada di jalan yang benar, yaitu, kami berhasil mengelola hal-hal yang berada dalam kendali kami," katanya.

"Ini luar biasa dalam lingkungan di mana faktor-faktor ekonomi makro seperti harga BBM telah mempengaruhi kami dan setiap maskapai lainnya," tambahnya.

Dia mencatat rata-rata harga BBM meningkat 36 persen sepanjang tahun lalu. Mencatat setengah dari total biaya perusahaan penerbangan itu. Laba bersih untuk kuartal keempat merosot 56,4 persen menjadi 135,7 juta ringgit tahun ke tahun.

Fernandes mengatakan prospek maskapai penerbangan berusia 10 tahun itu positif karena perusahaan melihat ke depan untuk pencatat AirAsia Thailand dan AirAsia Indonesia tahun ini.

Maskapai ini juga memperkirakan dapat mengambil pengiriman 20 pesawat baru A320 Classics pada 2012.

AirAsia yang berbasis di Malaysia telah menjadi salah satu industri penerbangan yang mencatat kisah sukses terbesar setelah Fernandes mengakuisisi perusahaan itu satu dekade lalu, ketika itu gagal.

Pada 2010, laba bersih setahun penuh hampir dua kali lipat dibandingkan dengan 2009.(Ant/BEY)



cbn

Artikel Terkait
Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
Kode Keamanan:
Master,
Sabtu, 25-Februari-2012

Berarti nilai tukar Ringgit Malaysia alias MYR terhadap mata uang asing telah anjlok, berarti krisis ekonomi telah lama masuk Malaysia dan mulai menghajar setelak-telaknya Malaysia. Berikutnya Thailand, Vietnam, dan seterusnya hingga Indonesia. Mirip krisis ekonomi 1998. Maskapai penerbangan Indonesia pasti minimal mengalami hal yang sama dengan AirAsia.