Palang Merah Internasional Evakuasi Warga Sipil Homs

Internasional | Sabtu, 25 Februari 2012 11:38 WIB

Metrotvnews.com, Homs: Palang Merah Internasional, ICRC, mulai mengungsikan perempuan, anak-anak serta korban luka-luka dari Kota Homs, Suriah, yang dilanda pertempuran sengit.

Iring-iringan ambulan Bulan Sabit Merah Suriah terlihat hilir-mudik di wilayah Baba Amr, kawasan terparah akibat pertempuran, sehari setelah perundingan berlangsung.

Para jurnalis yang terluka, termasuk yang menunggu diungsikan. Namun Palang Merah Internasional belum memutuskan apakah mereka termasuk pengungsi.

Desakan adanya bantuan kemanusiaan ke daerah terparah akibat pertempuran di Homs, Suriah, disuarakan dari konferensi di Tunisia yang dihadiri negara-negara Arab dan Barat

Konferensi yang diberi nama "Friends of Syria" atau Teman Suriah dihadiri delegasi dari 70 negara. Tujuannya untuk meningkatkan tekanan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Konferensi berakhir dengan sebuah deklarasi yang menyerukan Pemerintah Suriah untuk mengakhiri kekerasan serta mengizinkan akses bantuan kemanusiaan.

Deklarasi ini juga berjanji untuk meningkatkan sanksi terhadap Suriah, termasuk pembekuan aset, mengakhiri perdagangan minyak, dan mengurangi hubungan diplomatik dan mencegah pengiriman senjata.

"Peserta berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah untuk menerapkan dan menegakkan larangan dan sanksi terhadap rezim dan pendukungnya sebagai pesan yang jelas kepada rezim Suriah bahwa mereka tidak dapat menyerang warga sipil," demikian isi pernyataan deklarasi itu.

Hasil penting dari konferensi ini juga mengesahkan dukungan bagi kelompok oposisi utama, Dewan Nasional Suriah (SNC) sebagai perwakilan "sah" Suriah, meski tidak menutup untuk kelompok oposisi lainnya.

Usai penutupan konferensi, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton dalam jumpa pers mengatakan, "Rezim Assad dan pasukan keamanannya memikul tanggung jawab atas bencana ini. Rezim ini harus melakukan berbagai upaya untuk melindungi bantuan kemanusiaan yang dapat menjangka warga mereka yang paling menderita.." (BBC/DOR)



cbn

Artikel Terkait
Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
Kode Keamanan: