Kamis, 7 April 2011
Deskripsi

Kamis, 08 April 2011


INFRASTRUKTUR adalah tragedi yang semakin membelenggu Indonesia. Jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, tidak bertambah dalam jumlah maupun kualitas. Bahkan, jalan raya sebagai contoh, di seluruh Nusantara lebih banyak yang rusak daripada yang baik.

Sulit dibayangkan dengan infrastruktur yang compang-camping seperti saat ini, Indonesia mampu bersaing secara global. Setidaknya ada pemborosan Rp37 triliun dari sisi biaya angkutan akibat buruknya infrastruktur yang berimplikasi pada naiknya biaya produksi dan harga barang.

Mutu dan jumlah infrastruktur yang terus memburuk bertolak belakang dengan peningkatan APBN dari tahun ke tahun. Tahun 2004 belanja APBN kita adalah Rp430 triliun.

Sekarang, 2011, belanja APBN kita sudah Rp1.200 triliun. Terjadi peningkatan APBN tiga kali lipat dalam tempo tujuh tahun.
Ironi terbesar dan sekaligus tragedi adalah uang yang terus membengkak di kantong negara hanya mengakibatkan kemerosotan jumlah dan mutu infrastruktur. Pasti ada kesalahan yang sangat fundamental dalam politik infrastruktur.

Anggaran yang terbatas jadi kambing hitam. Dari kebutuhan dana infrastruktur yang mencapai Rp1.400 triliun hingga 2014, pemerintah mengklaim hanya mampu menyediakan 19,6%-nya atau sebesar Rp274 triliun. Sisanya dilemparkan ke swasta.

Tetapi hasilnya tidak seperti harapan. Soalnya, masih ada ganjalan investor untuk masuk ke proyek infrastruktur.
Salah satunya soal pengadaan lahan yang tidak segera direspons. UU tentang pengadaan lahan bagi kepentingan umum tak kunjung terbit.

Dalam pembangunan jalan, misalnya, pemerintah begitu terfokus pada jalan tol dan melupakan jalan-jalan nontol yang menjadi bagian dari tanggung jawab negara terhadap rakyatnya.

Pembangunan infrastruktur tidak bisa ditunda lagi. Mustahil memiliki daya saing nasional apalagi global kalau infrastruktur buruk, tersendat, bahkan terputus.

World Economic Forum menempatkan Indonesia di bawah negara-negara tetangganya soal kualitas infrastruktur. Indonesia mendapat skor 3,7 dari maksimal 7 poin, lebih rendah ketimbang Thailand (4,9) dan Malaysia (5,5).

Peringkat itu seharusnya membuat pemerintah terpicu. Keterbatasan anggaran dan ruang fiskal yang sempit jangan jadi alasan untuk malas mencari terobosan untuk membangun infrastruktur.

Pemerintah harus ingat, tanpa ketersediaan infrastruktur, sulit bagi Indonesia menaikkan daya saing menuju keterbukaan pasar ASEAN pada 2015.

Apa kita mau hanya jadi pasar ekspor negara lain?

Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
Kode Keamanan:
Kuncoro,
Jumat, 8-April-2011

Media Indonesia dan Metro TV jangan provokatif dalam pemberitaan, jangan tendensius menyalahkan pemerintah, masalah jalan merupakan masalah bersama, pemerintah pusat, pemda, DPR, DPRD dan politsi.
 
Ni Komang Negara,
Jumat, 8-April-2011

Masalah infrastruktur merupakan masalah bersama, jangan saling menyalahkan. Pemerintah hanya melaksanakan, kebijakan politik menunggu dukungan partai dan DPR. Jika DPR tidak setuju, pemerintah daerah dan pusat juga tidak bisa apa-apa.
 
Suyitno,
Kamis, 7-April-2011

Infrastruktur rata-rata dibuat oleh Departemen PU, namun penggunaanya diatur oleh Departemen Perhubungan. PU ingin ada pembatasan muatan pada angkutan niaga, namun Departemen Perhubungan tidak pernah bisa merealisasikannya karena protes para pengusaha angkutan (dan terkait periuk nasi mereka). Sehingga jalan dan infrastruktur lainnya mudah rusak karena overload. Jadi sebenarnya masyarakat, sopir truk dan pengusaha angkutan secara tidak langsung juga melakukan korupsi (kong kali kong dengan petugas dep perhubungan). Tetapi jalan rusak bukan semata karena truk kelbihan muatan. Jalan rusak juga karena mobil sedan dan mewah. Pimpro PU ingin mobil mewah dan kong kali kong dengan kontraktor jalan untuk menyediakannya dengan menurunkan spesifikasi.
 
ucokj,
Kamis, 7-April-2011

setuju sama kalian semua,tingal di Indonesia sama saja tinggal di alm fatamorgana,tidak berani bertindak.aq tinggal di medan, baru 1 kali dalm hidup aq melihat jl di depan rumah aq di aspal.dari orde suhartoi - orde SBY, nah aq belajar di malaysia,tu pun ditolong sdra aq.sekambalinya dari Malaysia,balik kerumah,aq pikir tempat tinggal q dah diserang sama bel;anda kembali, karna jlnya dah RUSAK PARAH macam tank2 yang lewat...
 
ilham,
Kamis, 7-April-2011

1. Infrastruktur memang harus selalu dirawat dan diperbaiki sebaik apapun itu kulaitasnya . Ini sudah aturan daras infrastruktur jalan di negara manapun. 2. Kualitas jalan bukan hanya tanggung jawab dan akibat sikap pemerintah namun juga ditentukan niatan kontraktor untuk membuat infrastruktur sesuai spesifikasi. 3. Yang merusak jalan adalah bukan mobil pribadi tetapi justru kendaraan kendaraan angkutan barang yang kelebihan muatan. 4. Tanggung jawab perawatan jalan bukan 100% tanggung jawab pemerintah pusat , justru niatan daerah untuk mennertibkan arus lalu lintas kendaraan yang sangat menentukan. 5. Niatan pemerintah untuk menertibkan dan mengatur muatan selalu mendapat protes dan tekanan dari kalangan ushawan yang hana berpikir jumlah muatan tanpa berpikir kapasitas jalan. Nah kalau begini bagaimana? Ruwet kan? Monggo siapa yang mau jadi PNS yang sungguh sungguh mau memecahkan ini dengan gaji rata rata 2 juta per bulan + tekanan dari berbagai pihak? PS: saya bukan PNS
 
List Episode