Siami, seorang warga Surabaya, Jawa Timur, tak pernah membayangkan niat tulusnya mengajarkan kejujuran kepada sang anak, justru menuai petaka. Di bulan Mei 2011 lalu, ia melaporkan guru SDN Gadel 2, Tandes, Surabaya yang memaksa anaknya, Alif memberikan contekan kepada teman-teman sekelasnya, saat Ujian Nasional. Ia tak gentar saat ratusan warga Gadel mengusir keluarganya keluar dari kampung. Siami dituding berkhianat karena telah membongkar aib sekolah. Setelah muncul di media massa, akhirnya kasus contekan massal ini merebak ke penghujung negeri. Dukungan dari masyarakat luas yang peduli akan kejujuran terus mengalir. Siami sekeluarga kini pindah ke rumah baru, dengan harapan, putranya bisa berkonsentrasi melanjutkan sekolah tanpa ancaman dari lingkungan sekitar.
Lain Siami, lain pula Ruwet Dionah. Warga Tegal, Jawa Tengah ini patah hati ketika sang anak, Eko Haryanto nekad gantung diri karena menunggak iuran SPP selama 10 bulan. Peristiwa tragis yang terjadi di tahun 2005 ini, membuat Eko cacat seumur hidup. Kini Eko terpaksa berhenti sekolah, karena ia kesulitan berjalan dan berbicara.
Kisah Alif dan Eko adalah potret buram dunia pendidikan di Indonesia. Guru dan orang tua menghalalkan segala cara agar anak mereka mendapat gelar juara. Di lembar lain, pendidikan hanya milik mereka yang memiliki materi lebih, namun memarjinalkan mereka yang papa.