HARGA beras beberapa tahun terakhir terus melambung. Namun, tingginya harga beras ini, tidak bisa diterjemahkan sebagai kemakmuran bagi petani. Petani tetap berhadapan dengan berbagai masalah. Masalah cuaca, tanah, benih, pupuk hingga menjual hasil panen. Selain itu, para petani masih harus berhadapan dengan sebuah sistem perberasan dimana harga tak bisa mereka kendalikan.
Mata Najwa menghadirkan seorang petani asal Jember, Jawa timur, Ahmad Burhan. Burhan mengkisahkan bagaimana lika-liku ia menjual hasil panennya. Mulai dari mendatangi pengijon atau tengkulak di saat padinya masih hijau karena butuh pupuk. Burhan juga menceritakan pernah mencoba menjual gabahnya langsung ke gudang Bulog. Namun, ternyata Bulog mensyaratkan jumlah yang sangat besar hingga tak masuk akal bagi petani kecil seperti Burhan yang hanya punya 0,5 hektar sawah. Selain itu, menurut Burhan, ada permainan di Bulog sehingga tak semua petani bisa menembusnya.
Tim investigasi DPR tahun 2005 menemukan ada 6 perusahaan beras yang melakukan praktik kartel selama lebih dari 35 tahun. Untuk itu, Mata Najwa menghadirkan salah satu anggota Tim Investigasi DPR yang menjelaskan hasil temuannya kala itu. Hasto juga mengungkap siapa saja pengusaha yang bermain, serta bagaimana modus mereka. Selain itu, sebagai perbandingan bagaimana politik pangan di era Orde baru, Mata Najwa menghadirkan mantan menteri pertanian RI Syarifuddin Baharsyah.