Apa Sesudah KTT Jakarta

Metro View | Minggu, 8 Mei 2011 21:07 WIB

Suryo
Suryopratomo

KONFERENSI Tingkat Tinggi ASEAN yang berakhir hari Minggu menghasilkan beberapa kesepakatan penting. Tantangan bersama yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana ASEAN menghadapi krisis pangan dan energi, isu terorisme, dan pembangunan infrastruktur. Sementara untuk memperkuat soliditas ASEAN bagaimana menyelesaikan konflik Thailand dan Kamboja serta keanggotaan Timor Leste.

Terhadap berbagai kesepakatan yang dihasilkan tantangannya bagaimana lalu mengimplementasikannya. Tantangan itu tidak cukup hanya diidentifikasi, tetapi yang lebih sulit bagaimana lalu harus dilaksanakan.

Seperti ajakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Vietnam untuk meningkatkan produksi beras. Vietnam dan Thailand merupakan lumbung beras ASEAN sekarang ini. Kedua negara itu merupakan andalan Indonesia apabila kita mengalami kegagalan panen.

Persoalan peningkatan produksi justru berada pada kita. Bagaimana kita mampu melakukan pembukaan sawah baru di samping mendorong produktivitas dari sawah-sawah yang ada.

Kita menyadari bahwa masalah pangan merupakan persoalan yang serius karena berpengaruh pada tingkat inflasi. Namun penanganannya tidak pernah dilakukan secara serius. Konversi lahan sawah kelas utama terus saja terjadi dan kita tidak pernah mencoba menghentikannya.

Kita sadar bahwa pembukaan sawah-sawah baru membutuhkan investasi dalam sistem irigasi, namun sangat kecil anggaran yang kita sediakan untuk membangun sistem irigasi itu. Demikian pula dengan pengembangan riset pertanian yang investasinya boleh dikatakan sangat minim.

Hal yang sama terjadi pada bidang energi. Kita tahu bahwa energi yang berasal dari fosil akan semakin langka, sehingga harganya cenderung akan semakin mahal. Jawabannya adalah mengembangkan energi alternatif yang terbarukan. Namun kita tidak pernah mau serius untuk mengembangkan energi alternatif tersebut.

Berbagai tantangan yang dihadapi ASEAN tidak cukup hanya diselesaikan dengan kesepakatan di atas kertas. Yang jauh lebih penting untuk dilakukan adalah bagaimana merumuskan cetak biru untuk menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan ke depan.

Terutama dalam mendorong setiap anggota untuk menyelesaikan pekerjaan rumah sendiri-sendiri. Jangan sampai karena persoalan internal yang dihadapi, lalu lupa akan persoalan bersama yang harus bisa dipecahkan.

Persoalan internal yang tidak kalah pelik dihadapi ASEAN adalah perselisihan di antara negara anggota. Konflik antara Thailand dan Kamboja merupakan salah satu masalah yang bisa menggoyahkan soliditas ASEAN.

Memang konflik ini menjadi lebih rumit karena berkaitan dengan persoalan perebutan tempat suci. Isu ini menjadi sangat sensitif karena berkaitan dengan urusan agama. Pengalaman di banyak negara, persoalan yang berkaitan dengan urusan agama jauh lebih rumit pemecahannya.

Oleh karena itu sebenarnya dibutuhkan adanya juru damai. Masalah ini tidak cukup hanya diselesaikan melalui cara politik dan mengerahkan pasukan perdamaian. Harus ada orang yang bisa membuka hati pihak-pihak yang sedang bertikai.

Kalau saja Presiden Yudhoyono jeli sebenarnya kita memiliki orang yang piawai menjadi juru damai. Orang itu adalah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sejauh ini Jusuf Kalla sudah banyak diminta untuk menjadi penengah dalam konflik di Thailand Selatan dan juga Sri Lanka.

Penugasan kepada Menteri Luar Negeri untuk menyelesaikan konflik antara Thailand dan Kamboja bukan hanya akan terlalu formal, tetapi terlalu banyak pekerjaan lain yang harus menjadi perhatian Menlu. Dengan waktu yang terlalu terbatas dan kurang intensif untuk menyelesaikan perselisihan, pasti akan semakin kecil peluang keberhasilannya.

Pada masa kepemimpinan Indonesia di ASEAN sekarang ini tantangannya adalah apakah kita ingin dikenang sebagai pemimpin yang bisa menengahi konflik atau tidak? Kalau jawabannya ya, maka kita harus mau memberi kepercayaan itu kepada orang seperti Jusuf Kalla.

Kita tidak perlu takut orang seperti Jusuf Kalla akan berhasil karena tujuan kita adalah menciptakan perdamaian. Kita justru seharusnya bangga memiliki orang yang piawai menyelesaikan konflik, karena bisa sekaligus mengharumkan nama bangsa dan negara.

Sekarang tantangan kita, apakah sekadar hanya akan dikenang sebagai tuan rumah KTT ASEAN ke-18 ataukah kita ingin dikenang sebagai pemimpin yang efektif untuk membawa kemajuan bagi ASEAN? Seharusnya jawaban kedualah yang kita inginkan.



©MetroTVNews.com

Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
Kode Keamanan:
wongndeso,
Senin, 9-Mei-2011

Sebagai petani sawit ... apapun yg terjadi pada dunia & alam semesta yaaa skedar tau aja dikit2.. n still in the sawit land....just simple lives.
 
madnaip,
Senin, 9-Mei-2011

Semoga kerja sama ASEAN membuka mata Negara terhadap luasnya ketertinggalan agar berupaya lebih keras, terutama mengantisipasi persaingan global.
 
pengangguran,
Minggu, 8-Mei-2011

Puluhan tahun lamanya, ASEAN cuma ada di telinga pemerintah, nggak bakal & nggak pernah nyape ke rakyat ASEAN. Jalan2 deh & tanya orang sekitar tentang Indonesia, mereka bilang Indonesia? in South America? Jungle? Uncivilized? Muslim Country-home for terrorists? Is it like Vietnam? Oh yeah I knew Indonesia, SImple Cars were so very expensive in price but the people have no choice and keep buying.
 
justin,
Minggu, 8-Mei-2011

setelah KTT ASEAN, ya kita kembali jadi penonton dari kemajuan negara-negara ASEAN lainnya! Lagi pula, apa yg bisa kita harapkan dari SBY? Kita tidak usah bangga jadi tuan rumah KTT ASEAN skarang! Pas kita ada gesekan kepentingan dengan negara tetangga ASEAN, diplomasi bilateral kita selalu lemah, dan output-nya selalu kita dirugikan. Bukan pesimis/pragmatis, tapi fakta selalu begitu terus! Kita sebaiknya keluar saja dari keanggotaan ASEAN. Tak ada manfaatnya selama ini.