Bau Tak Sedap Pengadaan Pesawat
Metro View | Senin, 9 Mei 2011 20:51 WIB
Suryopratomo
KECELAKAAN pesawat Merpati Nusantara Airlines di Kaimana, Papua Barat, hari Sabtu lalu membawa kedukaan yang mendalam bagi keluarga korban. Kita bisa merasakan sedihnya keluarga yang ditinggal secara mendadak oleh anggota keluarga yang mereka cintai.
Di tengah kedukaan, kita mencium aroma yang tidak sedap berkaitan dengan pengadaan pesawat yang nahas tersebut. Memang kita masih harus menunggu investigasi yang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi. Kecelakaan yang terjadi belum tentu disebabkan oleh faktor pesawatnya. Bisa jadi itu disebabkan oleh faktor cuaca buruk yang memang melingkupi Kaimana hari Sabtu itu.
Hanya saja karena pesawat yang jatuh baru memiliki 600 jam terbang, wajar apabila orang mempertanyakan kelaikan pesawat. Apalagi ketika rencana pengadaan pertama dulu ada kontroversi di antara para pejabat negara untuk menggunakan atau tidak menggunakan pesawat MA-60 produksi China tersebut.
Melihat berbagai kecelakaan yang terjadi di banyak negara, sangat wajar apabila kita memeriksa kembali seluruh pesawat yang kita miliki. Itu merupakan sesuatu yang wajar, karena ketika berbagai insiden yang terjadi dengan pesawat Airbus A-380 pun, pihak Singapore Airlines dan Qantas meng-grounded seluruh pesawat yang mereka miliki.
Pemeriksaan menyeluruh merupakan sesuatu yang penting untuk membuat kita lebih yakin akan kelaikan pesawat yang kita miliki. Pada akhirnya seluruh transportasi umum harus memberikan jaminan keselamatan bagi para penumpangnya.
Apalagi untuk transportasi udara, tuntutan keselamatan lebih tinggi lagi. Sedikit saja kekurangan akibatnya sangat fatal dan itu berkaitan dengan nyawa penumpang. Itu bisa kita lihat dari kepedihan hati dari keluarga yang harus kehilangan sanak keluarganya sekarang ini.
Terhadap kontroversi pengadaan pesawat sendiri, selayaknya apabila hal itu segera diklarifikasi. Harus dibuat lebih jelas sejauh mana ada permainan dalam pengadaan pesawat buatan China tersebut.
Kita tentunya akan lebih merasa sedih apabila memang terjadi permainan dalam pengadaan pesawat MA-60. Mengapa? Karena kita tidak bisa menolelir tindak korupsi yang akibatnya adalah hilangnya nyawa orang lain.
Di tengah pengawasan yang begitu ketat terhadap korupsi memang sulit dipercaya masih ada orang berani bermain-main. Tetapi apa yang terjadi dengan pembangunan Wisma Atlet untuk SEA Games XXVI menunjukkan bahwa pemberantasan korupsi belum juga memberikan efek jera.
Kita menangkap bahwa masih banyak orang yang berani untuk melakukan korupsi. Bahkan boleh dikatakan cara yang melakukan tergolong nekad. Meski mudah untuk bisa dilacak, tetap saja banyak orang berani melakukan itu.
Sikap dan perilaku dari banyak aparat masih belum juga berubah. Keinginan untuk bisa cepat menikmati gaya hidup mewah membuat orang tidak peduli bagaimana cara memperolehnya.
Mereka seperti tidak peduli bahwa anggaran yang dimiliki negara sebenarnya sudah sangat terbatas. Terutama anggaran pembangunan jumlahnya tidak lebih dari 10 persen dari anggaran yang tersedia. Tega-teganya mereka mengambil uang negara yang sebenarnya diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Tidak pernah terpikirkan oleh para koruptor itu bahwa mereka sebenarnya hidup di tengah penderitaan orang lain. Kemewahan yang mereka rasakan didapat dari jutaan orang yang harus hidup dalam kemiskinan.
Komisi Pemberantasan Korupsi sepantasnya untuk turun tangan. Setidaknya bisa meminta data pembelian pesawat MA-60 dan diperbandingkan dengan pembelian yang dilakukan negara-negara lain.
Tentunya kita berharap bau sedap dalam pengadaan pesawat MA-60 itu tidak benar. Seperti dijelaskan Direktur Utama MNA Sardjono Jhony Tjitrokusumo, kecelakaan di Kaimana murni adalah sebuah kecelakaan karena buruknya cuaca, bukan karena faktor pesawat.
Kita tidak sepantasnya menambah kedukaan keluarga yang harus kehilangan sanak saudaranya. Mereka berpulang kepada-Nya karena kecelakaan yang tidak bisa ditolak. Cuaca buruk di Kaimana menyebabkan pesawat itu terempas di dalam laut, bukan karena buruknya pesawat yang dibeli karena ada rente yang didapatkan.
©MetroTVNews.com
Kamis, 19-Mei-2011
masalah hukum harus segara ditangan, yg paling pas KPK, namu KPK tentu kita berharap, jangan setiap kasus yg menarik perhatian publik , dijadikan ajang panggung politik KPK, maaf, semenjak Busyro jadi ketua, terasa baunya kearah sana, dan jauh lebih penting adalah menyelematkan Merpati, sbg BUMN yg punya peran penting "merajut Ind. timur", paling cepat,suntik dana segar, agar neracany, cash-flow sehat, perpanjang sewa beli pesawat yg sdh berjalan, dan sementara grounded pesawat Cina, program kembali pembuatan peasawat penumpang dg Nurtanio, dan 3-4 tahun, pswt buatan RI ikut berperan mendukung menejemen merpati. Sangat penting, meninjau ulang komitmen mutu merpati, sebab standardisasi apapun, baik menejemen/produk maupun teknis dan SDM, yg sangat penting adalah konsisitensi pada komitmen mutu dr TOP Menejemen. Utk kasus Merpati, sy pribadi meragukan-etika kebijakan politik ekonomi Cina, yg selalu bertumpu pd produksi ganda,bila produk pasar AS,pasti berbeda dg pasar Indonesia, terutama dr sisi mutu--oleh karenanya,hal itu sangat mempengaruhi kebijakan dan proses standarisasi, baik oleh pelaku di Cina, maupun oleh pelaku standarisasi di Ind. dlm hal ini Kemetrian Perhubungan...manusia dan kebijakan mempengaruhi itu, walaupun tdk ada dlm risalah standard
Selasa, 10-Mei-2011
N250 GATOTKACA First Flight (Exclusive Made In Indonesia)
Selasa, 10-Mei-2011
yang jelas apapun produk cina,baik elektronik,motor,mobil,hendphon pasti murah dan tidak bermutu,saya pernah naik pesawat merpati twin oter dari biak ke kaimana,pesawat sudah redi tapi ada dipukul-pukul dulu baru jarum ampernya bergerak,pabrik pesawat sudah tutup,tapi pesawat tetap terbang...saya tidak tahu suku cadangnya didapat dimana kalau ada yang rusak.
Selasa, 10-Mei-2011
Barang Cina dibeli, rakyat dibunuh. Mestinya Menteri Perdagangan itu orang Indonesia ASLI, jadi tidak semua barang Cina diborong.
Selasa, 10-Mei-2011
Di balik musibah ternyata ada hikmah. Tapi kenapa harus ada musibah dulu ya ? Andaikata hikmah bicara dari awal.