Sulitnya Mengatur Penumpang KA
Metro View | Kamis, 12 Mei 2011 19:29 WIB
Suryopratomo
BANYAKNYA penumpang kereta api yang duduk di atas gerbong dan terjatuh membuat PT Kereta Api Indonesia melakukan penertiban. Mereka bukan hanya dipaksa untuk turun di stasiun terdekat dan dikenai denda uang.
Kita mendukung langkah yang dilakukan PT KAI karena kita tidak menginginkan adanya penumpang yang celaka. Terlalu banyak sudah orang yang menjadi korban akibat tersengat tegangan listrik atau terjatuh dari atas gerbong kereta api.
Akan tetapi tidak mudah untuk menjalankan maksud baik itu. Masyarakat sendiri ternyata tidak peduli dengan keselamatan mereka. Bahkan tidak sedikit yang melawan ketika penertiban hendak dijalankan oleh pihak PT KAI.
Atas fakta itu memang perjalanan pembangunan bangsa yang kita lakukan masih jauh dari yang kita idealkan. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat membuat upaya penyadaran masyarakat membutuhkan usaha yang lebih keras. Bahkan dengan tindakan yang lebih tegas, dengan menyemprotkan cat kepada mereka yang ada di atas gerbong tidak juga membuat mereka jera.
Selain tantangan untuk terus meningkatkan pendidikan masyarakat, yang harus dievaluasi adalah ketersediaan sarana transportasi. Mungkin ketersediaan sarana membuat orang tidak punya pilihan. Karena ketidakjelasan jadwal kereta api yang akan datang kemudian, membuat masyarakat mengambil jalan penuh risiko.
Faktor ketersediaan sarana dan informasi keberangkatan kereta api merupakan sesuatu yang penting. Pada banyak negara yang sistem transportasinya baik, masyarakat tidak perlu memaksakan diri karena dia tahu kapan angkutan berikutnya akan datang. Semua orang lalu bisa menghitung, karena ada kepastian.
Kita sering diingatkan bahwa salah satu penyebab ketidaksabaran masyarakat adalah tidak adanya kepastian. Semua orang menjadi serba terburu-buru, karena tidak tahu kapan sarana transportasi selanjutnya akan tiba. Daripada menunggu sesuatu yang tidak pasti, maka cenderung kita memaksakan untuk ikut sarana transportasi yang ada, meski kadang sudah tidak nyaman lagi.
Faktor lain yang juga harus menjadi perhatian adalah tingkat kemiskinan masyarakat. Tidak adanya biaya transportasi yang dimiliki membuat masyarakat mencari yang gratis. Meski risikonya tinggi, maka pilihan itu tetap mereka ambil.
Fenomena penumpang kereta api di atas gerbong merupakan fenomena negara yang miskin. Kita lihat hal yang sama terjadi di India, Bangladesh, atau Sri Lanka. Transportasi massal seperti kereta api ditumpangi orang jauh di atas kapasitasnya.
Kenyataan seperti ini bukan baru terjadi sekarang ini. Jalur kereta api Merak-Jakarta sudah puluhan tahun kondisinya seperti itu. Orang menggunakan transportasi massal jauh di atas kapasitas yang bisa diangkut.
Hanya saja pertanyaannya, apakah kita secara serius lalu mencoba memperbaiki transportasi umum yang ada? Kita tidak pernah mengalokasikan anggaran secara memadai. Investasi di kereta api sangat minim kita lakukan.
Tidak usah heran apabila fasilitas transportasi umum kita, khususnya kereta api sangat buruk. Bahkan untuk kelas ekonomi seringkali fasilitasnya sangat tidak manusiawi. Masyarakat diperlakukan tidak seperti layaknya manusia.
Kita memang memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam urusan transportasi umum. Kita harus bekerja keras untuk segera memperbaikinya agar kemudian orang bisa mengatur hidupnya dengan lebih baik lagi.
Kita membutuhkan ada konsep yang lebih jelas mengenai pembangunan sistem transportasi umum itu. Bahkan itu jangan sekadar dijadikan konsep, tetapi harus juga segera dijalankan. Terlalu lama sudah sistem transportasi umum terlantar dan tidak tertangani dengan baik.
Sering kita terlambat mengeksekusi sebuah rencana, sehingga akhirnya membuat keadaan lebih rumit. Salah satu contohnya adalah pembangunan jalur kereta api ke Bandar Udara Soekarno-Hatta. Perencanaan sudah dibuat dan jalur itu jelas-jelas sangat dibutuhkan untuk mengurai kemacetan, namun pelaksanaan diundur-undur lagi.
Tentunya secara bersamaan, masyarakat harus semakin mendisiplinkan diri. Kita harus menghormati langkah penertiban yang dilakukan PT KAI. Penertiban itu sepenuhnya untuk kita semua agar tidak menjadi korban dari kecelakaan yang tidak perlu.
Tugas dari lembaga swadaya masyarakat untuk ikut mendidik warga. Jangan hanya sekadar berteriak mengkritik pemerintah, tetapi secara bersamaan harus mampu untuk memberikan pemahaman yang benar kepada warga masyarakat untuk menghormati peraturan. Terlebih lagi peraturan yang melindungi kita sebagai warga masyarakat.
©MetroTVNews.com
Sabtu, 15-Oktober-2011
ini adalah dampak dari korupsi yang ada. seandainya uang pajak tdk di korupsikan maka tidak ada orang kaya yang malas bayar pajak. Tentunya uang tersebut akan tersalurkan kembali kepada rakyat sebagaimana mekanismenya. berantas dari atas baru yang dibawah akan rapi secara sendirinya.