Pengumuman Libur yang Keliru
Metro View | Sabtu, 14 Mei 2011 16:19 WIB
Suryopratomo
LIBUR merupakan hal yang paling disukai oleh semua orang. Namun pengumuman libur yang disampaikan pemerintah terakhir ini justru memancing kritikan karena disampaikan pada waktu yang tidak pas. Pengumuman libur yang dilakukan secara mendadak membuat semua rencana menjadi berantakan.
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengumumkan hari Senin lusa sebagai hari libur nasional pada hari Jumat sore. Kebetulan hari Senin lusa memang merupakan hari kejepit di antara dua hari libur.
Zaman Pemerintahan Megawati Soekarnoputri hari kejepit seperti itu otomatis dijadikan hari libur. Apalagi pada tahun 2002 pariwisata kita sedang terpukul akibat serangan Bom Bali. Ketika itu wisatawan mancanegara takut untuk datang ke Indonesia.
Menko Kesra Jusuf Kalla ketika itu memutuskan untuk memaksimalkan hari kejepit untuk menghidupkan sektor pariwisata. Dengan memberikan kelonggaran libur kepada masyarakat diharapkan wisatawan domestik bisa meningkat dan mampu mengkompensasi menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara.
Keputusan itu terbukti sangat efektif untuk menyelamatkan sektor pariwisata dan kelompok usaha kecil dan menengah. Sektor pariwisata bisa hidup kembali dan itu sekaligus memberi kepercayaan kepada wisatawan mancanegara bahwa tidak ada masalah keamanan yang harus ditakutkan di Indonesia, meski ada serangan teror bom.
Latar belakang penetapan hari libur untuk hari kejepit itu tampaknya tidak dipahami oleh pemerintahan sekarang ini. Penetapan hari libur untuk hari kejepit sekadar dilihat dari ketidakefektifan semata. Daripada mereka bolos, lebih baik diliburkan saja.
Agar penetapan hari libur untuk hari kejepit itu bisa memberi manfaat ekonomi yang optimal, maka masyarakat harus diberi kesempatan merencanakan liburan itu. Sebab, tidaklah mungkin orang pergi berlibur secara mendadak. Tiket pesawat dan hotel tidak bisa dipesan secara tiba-tiba.
Menko Kesra Jusuf Kalla ketika itu bahkan mampu menjawab kritikan bahwa pemberian hari libur di antara hari kejepit hanya membuat bangsa ini semakin malas. Hari libur yang sudah terlalu banyak, menjadi semakin banyak lagi akibat penetapan hari libur tambahan tersebut.
Jusuf Kalla ketika itu mengatakan bahwa hari libur itu memang memberikan libur tambahan kepada mereka yang bekerja di kantoran. Namun, untuk mereka yang bekerja di sektor pariwisata dan usaha kecil dan menengah, libur tambahan itu justru memberikan tambahan pekerjaan dan tambahan pendapatan. Secara keseluruhan perekonomian nasional bukannya menurun, tetapi justru akan lebih meningkat.
Perhitungan Jusuf Kalla itu terbukti benar. Setelah penetapan hari libur untuk hari kejepit membuat perekonomian semakin bergairah. Terutama sektor pariwisata dan usaha kecil dan menengah semakin hidup. Itulah yang membuat perekonomian nasional kita bisa sehat seperti sekarang.
Setelah ancaman serangan bom berkurang dan perekonomian kita kembali normal, kita melihat pemahaman penetapan hari libur untuk dua hari yang kejepit memang tidak terlalu jelas lagi. Pemerintah kembali ragu apakah penetapan hari libur itu memberikan dampak yang positif atau negatif bagi perekonomian nasional?
Salah satu bentuk keraguan itu terlihat kemarin. Pemerintah mengumumkan libur pada saat-saat terakhir, ketika Bank Indonesia sudah menyatakan hari Senin bukan hari libur dan pasar modal pun sudah memutuskan bahwa hari Senin perdagangan saham berjalan seperti biasa.
Dewan Perwakilan Rakyat yang sudah mengagendakan rapat kerja dengan mitranya, kini bingung dengan keputusan pemerintah tersebut. Pemerintah pasti tidak bisa datang apabila DPR undang rapat kerja, karena Menko Kesra sudah mengumumkan hari Senin sebagai libur resmi.
Kita memang mendengar alasan bahwa pengumuman libur hari Senin sengaja disampaikan pada saat-saat terakhir karena khawatir banyak pegawai akan sudah meninggalkan kantor untuk berlibur sebelum jam kantor hari Jumat berakhir. Alasan itu justru semakin menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam menjalankan pemerintahan. Selain tidak mampu membuat perencanaan dan koordinasi yang baik, pemerintah sekarang tidak mampu menegakkan disiplin aparatnya.
Seharusnya pemerintah kembali kepada dasar penetapan hari libur untuk hari kejepit di antara dua hari libur seperti yang dipakai Jusuf Kalla dulu. Sebab, itu juga yang dipakai negara-negara maju dan perusahaan multinasional yang beroperasi juga di Indonesia, untuk mengganti hari libur yang jatuh hari Sabtu dan Minggu. Jika hari libur nasional mereka jatuh pada hari Sabtu dan Minggu, maka otomatis hari Senin menjadi hari libur bagi mereka.
Mereka tidak melihat hari libur sebagai sebuah pembuangan waktu yang sia-sia. Sebab, dengan liburan yang bisa dimanfaatkan secara baik, bukan hanya akan menggerakkan sektor perekonomian nasional, tetapi membuat karyawan bisa melonggarkan ketegangannya, sehingga ketika kembali masuk bekerja bisa lebih bersemangat lagi melaksanakan tugasnya.
Namun semua itu memang tetap harus terus diawasi. Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang bisa memacu para pegawainya untuk bekerja dengan etos kerja yang tinggi dan penuh disiplin guna mencapai hasil yang terbaik.
©MetroTVNews.com
Senin, 16-Mei-2011
Yang penting "citra" toh, bahwa itu mendadak atau yang lain "sebodo teing". Seperti bung Hemat Sembiring, semoga cepat dapat pengganti pemimpin yang amanah, ga usah nunggu pemilu 2014. Atau mosi tidak percaya, sehingga pemilu dipercepat? Toh biaya sama saja sekarang atau nanti
Minggu, 15-Mei-2011
walau tak mendidik tp pemerintah-kan dapat sanjungan dr bawahannya.............!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Minggu, 15-Mei-2011
Memutuskan hal sepele yg sudah ada contohnya begitu sulitnya, gimana mau memutuskan hal2 besar seperti pemberantasan korupsi. Tapi hebatnya klau giliran memutuskan bangun gedung DPR, rumah aspirasi, nambah anggaran buat kunjungan kerja atau pengadaan iPad... cepetnya nya minta ampun.
Minggu, 15-Mei-2011
semakin jelas pemerintahan sby paling tidak bisa tegas. libur saja tidak terencana, apalagi yang lainnya, yang perlu pakai pemikiran otak. dasar...........
Minggu, 15-Mei-2011
AHLI PERINTAH AHLI DADAKAN, NGACAU TIDAK JELAS APA MAKSUDNYA ASAL MEMBUAT KEBIJAKAN TAPI TIDAK BIJAK. KASIHAN RAKYAT HANYA PASRAH DAN BERDOA SAJA AGAR KITA DAPAT PEMIMPIN YANG BENAR2 BIJASANA.AMIN