Menangkap Teroris Itu Berisiko
Metro View | Minggu, 15 Mei 2011 17:21 WIB
Suryopratomo
DETASEMEN Khusus 88 Kepolisian Republik Indonesia mencegat dua pelaku teroris dari Kelompok Cirebon di Sukoharjo, Jawa Tengah. Perlawanan yang dilakukan dua teroris menyebabkan terjadinya baku tembak. Seorang pedagang angkringan yang berada di antara ajang baku tembak tewas tertembak.
Kita tentu merasa sedih atas kematian seorang anggota masyarakat. Kejadian ini menunjukkan betapa berbahayanya para pelaku aksi teror. Mereka menggunakan berbagai senjata mematikan dalam menjalankan aksinya.
Itulah yang membuat anggota Densus 88 harus selalu waspada. Mereka terpaksa menggunakan senjata api untuk melumpuhkan para pelaku teror. Sayangnya, kali ini bukan hanya pelaku teror yang tewas tertembak, tetapi anggota masyarakat lainnya yang tidak tahu apa-apa.
Terhadap kematian seorang anggota masyarakat kita mendengar adanya suara yang kritis. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia akan melakukan penyelidikan untuk mengetahui mengapa sampai ada warga masyarakat yang sampai tertembak.
Kita tentunya menilai wajar dilakukannya pengawasan. Dalam era demokratisasi seperti sekarang, setiap tindakan harus bisa dipertanggungjawabkan. Tujuannya, jangan sampai terjadi salah guna kekuasaan.
Namun tugas pengawasan jangan juga sampai mematikan semangat dari para penegak hukum dalam menciptakan keamanan dan ketertiban. Jangan sampai sekadar mencari-cari kesalahan dan akhirnya membuat aparat keamanan malas untuk bertindak.
Kita harus juga menerima kenyataan bahwa pekerjaan aparat keamanan penuh dengan risiko. Dalam situasi yang kritis ketika melakukan pencegatan kepada para pelaku teror, putusan harus diambil dalam hitungan detik untuk menindak atau membiarkan pelaku lepas.
Ketika hendak mengambil putusan itu, pertimbangan yang dipakai aparat keamanan pasti bukan sekadar untuk kepentingannya sendiri. Pertimbangan yang terbesar, dalam menangkap pelaku teror adalah keselamatan warga yang lebih besar.
Serangkaian teror bom yang sudah terjadi menunjukkan bahwa aks yang dilakukan para teroris menyangkut nasib banyak orang. Setiap kali terjadi ledakan bom teror, maka korbannya adalah warga biasa yang tidak tahu urusan perpolitikan. Ketika Bom Bali 2002 lebih dari 200 warga tewas seketika karena aksi pelaku teror.
Atas dasar itu kita mendesak aparat keamanan untuk melakukan tindakan preventif. Penangkapan para pelaku teror jangan hanya dilakukan setelah aksi teror terjadi, tetapi sebisa mungkin dilakukan sebelum teror itu terjadi.
Pencegatan yang dilakukan di Sukoharjo hari Sabtu dinihari kemarin harus kita lihat juga dari konteks itu. Densus 88 terus berupaya mengejar pelaku teror dari Kelompok Cirebon sejak serangan teror bom yang terjadi di Masjid Markas Kepolisian Sektor Cirebon. Tujuannya adalah jangan sampai kelompok itu bisa menjalankan lagi aksinya.
Kita bisa bayangkan apabila Densus 88 gagal untuk mencegat dua pelaku aksi teror tersebut. Mereka akan terus menjadi potensi ancaman bagi masyarakat dan suatu waktu bukan tidak mungkin pelaku teror itu bisa melakukan aksinya dan banyak warga yang harus menjadi korban.
Dalam upaya menciptakan keamanan dan ketertiban, kita jangan larut dalam sikap saling curiga. Apalagi jika kemudian membangun sikap apriori. Kita tidak bisa terus melihat sisi negatif, tanpa pernah mau memberikan apresiasi.
Keberhasilan anggota Densus 88 dalam membongkar berbagai aksi teror tidak pernah dilihat sebagai sesuatu yang pantas diapresiasi. Namun ketika ada sedikit kesalahan, dianggap sebagai kesalahan institusi yang dilakukan dengan sengaja.
Sekali lagi bukan berarti kita juga kita memperbolehkan anggota Densus 88 dalam melakukan apa pun untuk membongkar pelaku teror bom. Kita tentu harus mengawasi agar tidak terjadi salah guna kekuasaan. Hanya saja semua harus dilakukan secara proporsional dengan harapan semua upaya menciptakan keamanan dan ketertiban dilakukan dengan cara yang baik dan benar.
©MetroTVNews.com
Senin, 16-Mei-2011
Pakai akal sehat ajalah, kalo teroris pasang bom, BANYAK orang bisa mati, apa itu teroris mesti di urus sama tukang HAM?? kalo densus nangkep teroris gak sengaja melukai 1 orang - yah namanya kecelakaan, gak usah lebay pliss.
Senin, 16-Mei-2011
Para poli tukus jangan hanya beda bicara, hargai dong itu densus 88, jangan sampai terjadi seperti kasus perompakan kelamaan memutuskan akhirnya devisa keluar milyaran.
Senin, 16-Mei-2011
Komnas HAM hanya mencari sensasi saja, namun tidak mepertimbangkan kepentingan masyarakat yang lebih besar. NKRI sudah meradang karena ulah kolompok garis keras yang menginkan terbentuknya NII. Kalau Komnas HAM bekerja untuk keutuhan NKRI, pasti sudah berteriak dan selidiki terhadap anak bangsa yang dicuci otaknya untuk kepentingan NII. Saatnya Pengadilan Jalanan diterapkan terhadap "Teroris dan Koruptor" demi kepentingan lebih besar keutuhan NKRI. Bukti2 cukup culik dan lenyapkan .... Petrus era Soeharto dan cara melenyapkan Osama Bin Laiden sebagai referensi, kesampingkan HAM. Selamat Densus 88 terus habisi saja melalui Pengadilan Jalanan.
Senin, 16-Mei-2011
Bukan saja teroris yang di-bikin mampus, tapi juga sang provokator yang membuat anak muda jadi teroris. Provokator seperti Abu Bakar Baasyir, bahaya tuh???
Senin, 16-Mei-2011
HAI KOMNAS HAM KERJA YG BENER JANGAN HANYA KEMATIAN NUR IMAN SAJA YANG DI USUT TETAPI USUT PULA KEMATIAN BANYAK ORANG TAK BERDOSA AKIBAT ULAH PARA TERORIS GILA ITU