Membangun Kesabaran di Hari Waisak

Metro View | Selasa, 17 Mei 2011 19:42 WIB

Suryo
Suryopratomo

UMAT Buddha hari Selasa merayakan Hari Waisak dengan pergi berdoa ke vihara-vihara. Semua berharap agar Trisuci Waisak ini dapat menginspirasi kita untuk lebih berupaya mencapai pencerahan sempurna demi kebahagiaan semua makhluk.

Dengan mengembangkan Prajna, Maitrin, dan Karuna, umat Buddha mencoba agar Bodhicitta dalam diri dapat dibangkitkan. Ajaran welas asih yang dicontohkan Sang Buddha sebisa mungkin dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak contoh yang ditunjukkan Sang Buddha yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran bagaimana bersikap sabar. Salah satunya ditunjukkan ketika ada orang yang tidak mau mengikuti ajaran Sang Buddha.

Dengan kasar orang itu mengatakan bahwa Sang Buddha tidak mempunyai hak untuk mengajar orang lain. Sang Buddha tidak beda dengan orang yang lain, sehingga tidak ada hal yang bisa dipetik sebagai pelajaran.

Sang Buddha sama sekali tidak tersinggung oleh ucapan sang pemuda. Sang Buddha sama sekali tidak marah, meski secara tiba-tiba dicaci-maki oleh pemuda itu. Dengan tutur kata halus Sang Buddha hanya mengajukan pertanyaan sederhana: "Apabila membelikan hadiah untuk seseorang, namun orang yang hendak diberi hadiah menolaknya, lalu menjadi milik siapa hadiah itu?"

Pemuda itu kaget mendengar pertanyaan Sang Buddha yang di benaknya terdengar aneh. Pemuda lalu menjawab: "Hadiah itu menjadi milik saya, karena saya yang membelinya."

Sambil tersenyum Sang Buddha langsung menjawab: "Anda benar. Seperti itu pulalah dengan kemarahan Anda. Jika Anda marah kepada saya, namun saya tidak merasa terusik oleh kemarahan Anda, maka kemarahan itu akan kembali kepada Anda. Anda yang menjadi tidak bahagia dengan kemarahan itu, bukan saya. Jadi apa yang Anda baru kerjakan justru melukai Anda sendiri."

Sang Buddha menambahkan, apabila kita tidak ingin melukai kita sendiri, maka jauhkan kemarahan dari diri kita, gantilah dengan rasa cinta. Apabila kita membenci orang lain, maka yang akan merugi kita sendiri. Tetapi jika kita mencintai orang lain, maka semua orang akan bahagia.

Kita ingin menggunakan pelajaran hidup yang diajarkan Sang Buddha untuk kita terapkan dalam kehidupan sekarang ini. Di tengah kehidupan kita yang lebih banyak dikuasai rasa marah, rasa curiga, dan penuh syakwasangka.

Potret itu begitu mudah kita saksikan di sekitar kita. Semua orang tampak begitu mudah untuk marah ketika apa yang diinginkan tidak bisa dipenuhi. Kita dengan mudah mengekspresikan kemarahan itu kepada orang lain.

Bahkan kemarahan itu bukan kemarahan yang biasa, tetapi kemarahan yang penuh kebencian. Tidak jarang kemarahan itu diekspresikan dengan cara mencelakai orang lain. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah ketika melakukan itu.

Kemarahan yang satu segera memancing kemarahan yang lain. Akibatnya, sering untuk hal-hal yang sepele terjadi perkelahian antarkelompok, perkelahian antarwarga. Tidak jarang kemudian sampai jatuh korban jiwa.

Kita tentunya sama-sama ingin membangun sebuah bangsa yang beradab. Salah satu ciri bangsa yang memiliki peradaban adalah menghargai kemanusiaan. Penghargaan terhadap kemanusiaan hanya akan bisa dilakukan apabila menyebarkan rasa cinta, bukan rasa permusuhan.

Bahkan kita harus membangun kebersamaan apabila ingin menciptakan bangsa yang maju dan sejahtera. Tidak mungkin kita meraih kemajuan apabila kita tidak bersatu padu dan menggalang semua potensi yang kita miliki.

Kalau kita melihat hasil survai yang dilakukan Indo Barometer sekarang ini terlihat bahwa kekecewaan masyarakat terhadap Orde Reformasi karena kita gagal memenuhi janji yang kita sampaikan ketika memulai reformasi dulu. Selama 13 tahun terakhir ini, kita lebih banyak "berkelahi" sendiri daripada bersama-sama membangun negeri.

Momentum Hari Waisak tentunya baik untuk membangun kembali kebersamaan kita. Hanya dengan semangat saling membantu dan saling mengisi, maka kita akan bisa menggapai hari depan yang lebih baik.



©MetroTVNews.com

Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
Kode Keamanan: