Pelajaran Penting Pembelian MA-60

Metro View | Rabu, 18 Mei 2011 19:40 WIB

Suryo
Suryopratomo

KITA bukan ingin ikut mempersoalkan penyelidikan yang tengah dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi berkaitan dengan kecelakaan yang dialami pesawat Merpati Nusantara Airlines di Kaimana, Papua Barat. Biarkanlah KNKT menuntaskan kerja untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat jenis MA-60 buatan China tersebut.

Yang kita ingin pertanyakan, sejauh mana sebenarnya komitmen kita untuk membangun negeri tercinta ini. Menteri Perindustrian MS Hidayat meminta agar pengadaan segala macam kebutuhan barang memperhatikan industri dalam negeri. Tidak terkecuali adalah untuk pengadaan pesawat terbang.

Kita memang tidak sepantasnya tergantung kepada negara lain. Sejak zaman Orde Baru kita bersepakat untuk membangun industri dirgantara yang bisa menyatukan Indonesia. PT Dirgantara Indonesia dibangun untuk memproduksi pesawat yang bisa melayani jalur antarpulau di Indonesia.

Investasi besar-besaran sudah kita lakukan untuk membangun industri dirgantara yang bisa diandalkan. Kita sudah mampu memproduksi pesawat jenis Casa 212 dan CN 235. Bahkan kita berambisi untuk membangun pesawat yang lebih besar yakni N-250.

Orientasi untuk memasok kebutuhan pesawat di kawasan, membuat kita lupa akan potensi dalam negeri. Bahkan kita memaksakan diri untuk mendapatkan sertifikat Federal Aviation Administration, AS. Padahal dalam konteks persaingan, AS pasti tidak ingin ada negara yang bisa mengancam eksistensi Boeing.

Banyak negara memfokuskan terlebih dulu kepada kebutuhan dalam negeri dalam membangun industri mereka. Mereka mencoba mengokohkan diri di dalam negeri, sebelum mencoba melompat keluar.

Hindustan Aeronautical Industry, India misalnya lebih memfokuskan diri kepada kebutuhan dalam negeri. Mereka tidak terlalu peduli dengan sertifikasi FAA, sepanjang bisa laik terbang dan aman, mereka produksi pesawat terbang untuk kebutuhan dalam negeri.

Dengan dukungan pemakaian di dalam negeri banyak negara berhasil membangun industrinya. Jepang bisa menjadi negara industri maju, karena mereka didukung oleh masyarakatnya di dalam negeri. Sekitar 55 persen produksi industri Jepang dikonsumsi oleh pasar dalam negeri.

Hal yang sama dilakukan oleh Korea Selatan. Industri otomotif mereka seperti Hyundai dan Kia mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan dunia, karena masyarakat Korea menopang eksistensi industri bangsanya. Padahal pertama kali industri mereka dibangun, teknologinya diambil dari General Motors, AS.

Apabila kita ingin membangun industri dan menjadi negara industri yang maju, maka yang pertama-tama harus dilakukan adalah bagaimana mengajarkan bangsa Indonesia untuk mau menggunakan produksi bangsa sendiri. Sebab, tidak mungkin bangsa lain akan mau menggunakan produksi Indonesia, kalau kita sendiri tidak percaya akan kualitas produksi bangsa sendiri.

Kasus pembelian pesawat MA-60 menunjukkan betapa konyolnya bangsa kita ini. Pesawat yang masih belum teruji layak terbang dan tidak mendapatkan sertifikasi FAA, kita berani beli untuk mengangkut penumpang bangsa kita. Padahal ketika PT DI membuat pesawat yang belum mendapatkan sertifikasi FAA, kita mempertanyakan sertifikasi itu.

Bahkan ketika pesawat itu jatuh dan menewaskan 25 penumpangnya, kita lihat pejabat kita seperti Menteri Perhubungan maupun Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara masih membela kelayakan pesawat tersebut. Padahal ketika pesawat CN-235 mengalami kecelakaan, dengan cepat pejabat-pejabat kita meminta untuk dilakukan pemeriksaan dan bahkan larangan terbang sementara.

Dengan mentalitas pejabat kita yang masih banyak seperti itu, bagaimana lalu kita akan bisa membangun industri kita. Padahal mantan Direktur Industri Pesawat Terbang Nusantara, Hari Laksono, mengatakan bahwa dari sisi teknologi kelaikan pesawat CN-235 jauh lebih baik dibandingkan pesawat MA-60.

Kembali kepada inti ulasan kita kali ini, kalau ada hal yang pantas kita petik dari pengalaman pembelian pesawat MA-60, kita harus seperti bangsa Jepang dan Korea. Kita harus meneguhkan untuk mengutamakan penggunaan produk dalam negeri.

Dengan itu kita bukan hanya ikut mendorong tumbuhnya industri dalam negeri, tetapi merangsang karya yang lebih besar dari putra-putra Indonesia. Mereka pasti akan terus terpacu untuk menyempurnakan karya dan akhirnya menjadi karya yang dihargai masyarakat dunia.

Salah satu godaan terbesar dari keraguan kita menggunakan produk dalam negeri adalah korupsi yang bisa didapatkan. Dengan membeli produk impor, seringkali pejabat mendapatkan kick-back dari produsen di luar negeri. Penggelembungan harga dikembalikan kepada pejabat kita sebagai uang pelicin.

Inilah yang akhirnya membuat kita tidak pernah bisa membangun industri yang maju. Orientasi kita masih terpaku kepada keuntungan pribadi, bukan bagaimana memberikan keuntungan kepada negeri ini.

Padahal kalau saja kita mau menghilangkan sikap egois kita, dengan mudah kita menjadi bangsa yang maju. Ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla memerintahkan Tentara Nasional Indonesia untuk memakai panser buatan PT Pindad, maka bukan hanya TNI tidak kerepotan untuk mendapatkan alat utama sistem persenjataan, tetapi PT Pindad bisa berkembang menjadi perusahaan pembuat peralatan militer yang andal.

Kemajuan sebuah bangsa sebenarnya lebih tentunya oleh visi pemimpinnya. Apalagi jika pemimpin itu berani untuk menggerakkan masyarakatnya agar mau menggunakan produk dalam negeri. Dengan cepat bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar.



©MetroTVNews.com

Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
Kode Keamanan:
Si Korup,
Sabtu, 28-Mei-2011

jng salahkan Merpati pake MA 60 krn keterpaksaan kurangnya armada terpaksa sbg prsh BUMN menerima pengoperasian dari pmrth sbg PMN yg dipaksakan. Regulator perhubungan sdh mmberikan kebebasan yg berlebihan kpd swasta angk ud,shg prsh2 bumn bnyk yg bangkrut/PHK besar2an contoh Pelni/Merpati yg sdh merintis puluhan tahun skrng swasta yg menikmati. bukannya merpati tdk bisa bersaing tetapi ini akibat regulator lbh memanjakan airlines swasta yg dikuasai non pri krn angpao terus mengalir tanpa memperdulikan asets neg yg dikelola mati suri, disuntik brp pun Merpati akan sulit bangkit krn regulator lbh nyaman memelihara swasta yg ada angpaonya..parah negara ini,pjbt2nya lebih senang memelihara non pri sbg ATM mereka. weleh2...
 
andi,
Sabtu, 21-Mei-2011

contoh Jepang setuju,bahkan untuk memajukan negaranya sejak th 30an jepang menutup produk luar walau dikecam dunia bahkan negara barat pernah menjuluki sbg peniru produk.harusnya kita bukan malah menyanjung produk luar.
 
m.zainuddin,
Kamis, 19-Mei-2011

Negara Indonesia dengan jumlah penduduk 235 juta jiwa dengan sifat konsumeritif merupakan pasar distribusi yang menggiurkan bagi product2 Asing masuk ke Indonesia..Jaman ORBA sudah dirintis slogan2 ACI ( Aku Cinta Indonesia ) agar tumbuh kecintaan terhadap Buatan Bangsa Sendiri...Sekarang Kebanggaan itu sudah luntur, Product2 dalam negeri tergilas buatan Asing termasuk keruntuhan PT DI yang menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia...Siapa yang harus bertanggung jawab ? Siapa lagi kalau bukan pemimpin2 Bangsa ini yang salah urus.
 
ahmad sahid,
Kamis, 19-Mei-2011

Adili sby untuk kejahatan korupsinya. Memang bukan dia yang melakukan korupsi, tp sby membuka ruang dan melakukan pembiaran bagi orang-orang disekitarnya untuk melakukan korupsi dengan imbalan/kompensasi dukungan suara bagi pemilihan sby menjadi presiden dan bahkan dukungan bagi istrinya yg akan mencalonkan diri pada Pilpres 2014. Hati-hati dengan ani yudhoyono, krn jika terpilih pasti akan membungkam pihak-pihak yang akan memperkarakan suaminya.
 
ahmad sahid,
Kamis, 19-Mei-2011

Adili sby untuk kejahatan korupsinya. Memang bukan dia yang melakukan korupsi, tp sby membuka ruang dan melakukan pembiaran bagi orang-orang disekitarnya untuk melakukan korupsi dengan imbalan/kompensasi dukungan suara bagi pemilihan sby menjadi presiden dan bahkan dukungan bagi istrinya yg akan mencalonkan diri pada Pilpres 2014. Hati-hati dengan ani yudhoyono, krn jika terpilih pasti akan membungkam pihak-pihak yang akan memperkarakan suaminya.