Laksanakan Kongres Secara Bermartabat

Metro View | Kamis, 19 Mei 2011 19:53 WIB

Suryo
Suryopratomo

TIDAK salah apabila Prof Bachtiar Effendy mengatakan bahwa PSSI merupakan mikrokosmisnya Indonesia. Demi mengejar ambisi segala cara dihalalkan dan kita tidak peduli dengan tata krama dan nilai-nilai budaya Indonesia dalam menyelesaikan sebuah perbedaan.

Sehari menjelang Kongres PSSI yang kita bisa segala macam manuver dilakukan. Bukan hanya sekadar taktik dan strategi untuk memenangi Kongres, tetapi juga ancaman dan intimidasi agar kepentingannya bisa tercapai.

Sekarang menjadi pertanyaan, apakah Kongres PSSI yang berlangsung besok bisa berjalan lancar atau berakhir dengan kekisruhan. Kita sudah melihat bagaimana ketika Kongres PSSI dilaksanakan di Pekanbaru, Riau, yang akhirnya gagal dilaksanakan karena terjadi kekisruhan.

Kalau semua mau menggunakan akal sehat, seharusnya Kongres PSSI nanti berjalan aman. Tujuan dari Kongres adalah memilih pemimpin baru PSSI yang bisa mengembalikan sepak bola sebagai permainan yang menyehatkan, yang bisa membina generasi muda untuk menggapai cita-cita dan sekaligus mengharumkan nama bangsa dan negara.

Pembinaan sepak bola hanya bisa dilakukan kalau ada ketenangan. Kita harus menyatukan semua kekuatan yang ada agar semua memberi yang terbaik. Ketua Umum PSSI yang terpilih harus bebas dari kontroversi dan semua harus mau mendukung bagi keberhasilannya.

Semua itu hanya bisa kita lakukan apabila semua orang datang dengan hati yang bersih. Tidak boleh ada ancam mengancam dan memaksakan kehendak. Semua perbedaan yang muncul harus ditangani dengan kepala dingin agar dicapai sebuah kemufakatan.

Budaya Pancasila yang ada di bangsa ini tidak pernah membuat kita tidak bisa menyelesaikan persoalan. Semua harus bisa dirembukkan dan bahkan dengan hikmah kebijaksanaan pasti akan bisa dipakai permufakatan. Kuncinya, tidak boleh di antara kita yang ingin memaksakan kehendaknya sendiri.

Di sinilah inti persoalan yang kita hadapi sebagai bangsa. Budaya Pancasila tidak menjadi sesuatu yang hidup dan diyakini, apalagi dilaksanakan. Bahkan dalam banyak hal kita kemudian meninggalkan nilai-nilai Pancasila untuk kemudian menggunakan nilai-nilai yang tidak sejalan dengan budaya kita.

Dalam kehidupan politik kita lihat bagaimana kemudian kita lebih suka untuk menggunakan suara terbanyak. Seakan-akan cara voting dalam menyelesaikan persoalan dianggap sebagai cara yang demokratis. Padahal, demokrasi kita berbeda dengan demokrasi bangsa lain yang mendahulukan musyawarah untuk mencapai mufakat.

Kembali kepada apa yang disampaikan Prof Bachtiar Effendy, begitulah yang kita lihat juga menjelang Kongres PSSI sekarang ini. Suasananya tidak diwarnai dengan suasana festival seperti halnya ketika kita hendak menyaksikan pertandingan olah raga, tetapi lebih ditandai dengan ketegangan-ketegangan.

Bahasa yang dimunculkan bukanlah bahasa yang menyejukkan, tetapi sudah seperti ultimatum. Kita lihat bagaimana misalnya istilah "akan bertarung sampai titik darah penghabisan", yang lebih banyak dipergunakan. Atau "minggir kelompok status quo, biarkan pemegang hak suara yang memutuskan".

Dengan menempatkan "kamu di sana dan saya di sini", maka sebenarnya yang sedang dibangun adalah permusuhan. Padahal sekali lagi, sepak bola hanya bisa dibangun dengan kebersamaan. Apalagi sepak bola bukan milik kelompok tertentu saja, tetapi milik kita semua bangsa Indonesia.

Bagi kita yang merindukan sepak bola yang maju, harapannya Kongres PSSI berlangsung lancar. Siapa pun yang akan terpilih, yang penting dipilih dengan cara yang bermartabat dan tidak menggunakan ancaman-ancaman maupun pengerahan kekuatan.

Mari kita tunjukkan sikap-sikap yang sportif. Bukankah kita akan memilih pemimpin yang kelak mempunyai tanggung jawab mengajarkan sportivitas kepada generasi muda. Melalui sepak bola kita ingin membangun generasi muda yang memiliki karakter.

Sungguh sayang apabila kita tidak mampu untuk mempertunjukkan itu. Hanya sekadar mengejar ambisi, kita melupakan hal yang paling esensial dari olah raga yaitu sportivitas.

Bagi kita figur tidaklah terlalu penting. Siapa pun pantas memimpin PSSI sepanjang ia melakukan dengan hati dan dengan satu tujuan yaitu membangun kejayaan sepak bola Indonesia. Bukan sekadar mencari jabatan untuk popularitas dirinya, tetapi menawarkan konsep pembinaan yang bisa mengangkat sepak bola nasional ke jenjang yang paling tinggi.



©MetroTVNews.com

Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
Kode Keamanan:
dracul,
Minggu, 22-Mei-2011

sesungguhnya bangsa tidak pernah siap dengan perbedaan pendapat..., bangsa ini bukanlah bangsa yang bisa menjaga martabatnya, bangsa ini adalah bangsa kerdil yang melihat segala sesuatu dengan nilai materi..romantisma .kesulitan hidup di masa lalu dijadikan landasan untuk bertindak demi tercapainya kesenangan hidup dan kepuasan materi...akhirnya beginilah bansa ini dipimpin....tak bermoral dan bermartabat...tidak adalagi argumen yg elegan.......rebutan posisi ketua PSSI hanya untuk kepuasan materi bersama para kroni......hehhhhhh...
 
Bobotoh Viking,
Jumat, 20-Mei-2011

Apa salah George T dan Arifin P? Mereka bukan kriminal. Tapi oleh si Tjipta Lesmana, mereka dulu digugurkan tanpa alasan. Sehingga FIFA pun ikut2an menolak mereka. Ngakunya Prof Dr, sok pinter, lebay, sombong, arogan. Ternyata guoblok banget. Najis kau Tjipta
 
Jayalah Indonesiaku,
Jumat, 20-Mei-2011

Yang menjadi permasalahan adalah apakah Fifa memang mempunyai wewenang untuk menolak pencalonan ketua organisasi sepak bola di negara-negara? Kedua apa alasan Fifa menolak pencalonan Jorge Touisuita? Kalu memang ya dan sesuai dengan aturan yang berlaku, berati PSSI harus patuh dong.
 
elang,
Jumat, 20-Mei-2011

Pemilihan ketua umum PSSI samimawon pemilihan Bupati/Walikota/Gubernur ribut, kisruh, demontrasi ..... "Lahan Basah Pasti Diperebutkan yang ujungnya DUIT" Kapan yaa... munculnya pemimpin yang berjiwa kebangsaan !
 
Rakyat NKRI,
Jumat, 20-Mei-2011

Memang petinggi NKRI ini dodol semua, muka dan pantat sama nuraninya sudah mati. Sehingga tidak mengerti posisi nya ada dimana. Contohnya simak kembali talk show yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta nasional di Jakarta 2 malam yang lalu sangat menggelikan ......... Makanya nggak aneh PSSI nggak tuntas2. Mereka itu dalam otaknya hanya duwit, duwit dan duwit. Se - akan2 tanpa duwit mereka itu tidak bisa hidup. Pertanyaan saya cuma satu, kenapa PSSI sangat takut dengan FIFA?........ Saya tidak berpihak dan tidak mau tahu siapa yang akan jadi pimpinan di lembaga ini. Mau saya PSSI harus terhindar dari bayang2 ketakutan, mandirilah!!!!. Kalau sudah mandiri dan lepas dari intervensi dari mananpun serta dapat berjalan dengan normal, baru kembali ke FIFA percayalah nggak akan ditolak, karena FIFA juga berkepentingan dengan negara yang besar ini apalagi rakyat NKRI adalah rakyat bola maniac ..... Ingat itu Cina dengan bulutangkisnya akhirnya toh bisa mendunia juga .......