Menjaga Kepercayaan Publik
Metro View | Kamis, 9 Februari 2012 16:52 WIB
Suryopratomo
HASIL survei yang dilakukan perusahaan public relations global, Edelman, berkaitan institusi yang dipercaya oleh publik menunjukkan hasil yang mengejutkan. Media tradisional seperti koran, televisi, dan radio ternyata dianggap sebagai institusi yang paling dipercaya oleh publik.
Bahkan di antara negara-negara Asia Pasifik, media di Indonesia menempati posisi yang paling tinggi. Masyarakat Indonesia mempercayai berita dan informasi yang setiap hari disajikan oleh media tradisional.
Bertepatan dengan Hari Pers Nasional pada tanggal 9 Februari, hasil survei yang disampaikan Edelman menjadi hadiah yang terasa istimewa. Di tengah kritikan bahwa media massa hanya sekadar mengejar sensasi dan tidak menyampaikan fakta secara benar, ternyata masyarakat menilai pers Indonesia masih menjalankan fungsi kontrol dan koreksi secara benar.
Selama ini sering dimunculkan kesan bahwa media mempunyai agenda. Kekritisan media terutama kepada pemerintah dianggap sebagai upaya mendelegitimasi keberhasilan yang sudah dicapai. Apalagi ketika dunia sedang menghadapi krisis dan perekonomian kita bisa tumbuh 6,5 persen, kekritisan media dianggap sebagai menutupi fakta.
Padahal media tidak pernah menyangkal keberhasilan yang telah dicapai. Yang coba diingatkan media adalah bagaimana pertumbuhan itu bisa dinikmati oleh lebih banyak orang. Jangan hanya sebagian masyarakat yang hidup dalam kemewahan, sementara masih banyak yang belum mendapatkan pekerjaan dan hidup dalam kemiskinan.
Semua itu bukan dilakukan dengan melakukan fabrikasi. Apa yang disajikan media merupakan fakta yang ditangkap dari masyarakat. Kemiskinan yang ada di kota begitu telanjangnya, sementara kemiskinan di perdesaan dicerminkan anak-anak sekolah di Lebak, Banten, yang setiap hari harus melewati jembatan ala "Indiana Jones".
Kasus-kasus korupsi yang diangkat oleh media bukanlah kasus yang direkayasa. Itu kasus yang memang nyata dan setelah ditelusuri lebih dalam oleh media ternyata merupakan megakorupsi yang melibatkan banyak petinggi partai.
Kalau media gencar memberitakan kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games XXVI, itu bukan dikarenakan melibatkan petinggi Partai Demokrat. Media gencar memberitakan kasus korupsi karena itu merupakan musuh nomor satu bangsa ini dan ketika kita melakukan reformasi cita-cita yang ingin dicapai adalah membangun Indonesia Bersih.
Tentu media tidak boleh berpuas diri dengan apa yang telah dicapai. Seperti dikatakan Ketua Dewan Pers Bagir Manan, media dan wartawan harus selalu ingat akan tanggung jawab yang dipikulnya. Termasuk menegakkan kode etik jurnalistik seperti yang ditetapkan.
Institusi pers bukan industri yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utamanya. Perusahaan pers memang harus sehat secara finansial, namun itu dilakukan agar mereka bisa menjalankan peran secara profesional dan tidak harus menggadaikan idealisme mereka.
Pengalaman di Amerika Serikat, ketika berita dan informasi hanya dijadikan komoditas bisnis, maka media massa akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Sebab acara-acara televisi akan lebih banyak berisi "docudrama" yang penuh dengan rekayasa daripada acara yang mencerdaskan.
Berita-berita koran lebih banyak berisi gosip dan cerita-cerita berkaitan selebritas daripada berita yang mencerahkan. Demikian pula talkshow di radio yang lebih banyak diisi sensasi daripada informasi yang bermanfaat.
Ketika fiksi menjadi nyata, ketika berita lebih banyak direkayasa, memang media akan ditinggalkan pemirsa, pembaca, dan pendengarnya. Ketika itu terjadi maka semua kebebasan yang dimiliki menjadi tidak ada artinya sama sekali.
Tugas berat memang dipikul oleh kalangan media massa. Mereka memikul tanggung jawab yang tidak ringan untuk bisa memberi arti dari kehadiran mereka. Media tidak bisa hanya menjalankan prinsip "publish and be damned". Media harus bekerja dengan penuh "ketakutan dan rasa gemetar", karena takut karya tidak bisa mempunyai arti bagi kemajuan bangsa dan negaranya.
Apakah pers Indonesia akan mampu melakukan tugas mulia itu? Semua tergantung kepada komitmen dan kesungguhan insan pers untuk menjalankan idealisme yang melandasi keberadaan institusi pers. Selamat Hari Pers Nasional. Dirgahayu wartawan Indonesia!
©MetroTVNews.com
Minggu, 12-Februari-2012
Sebaiknya media digunakan untuk menerangi kejahatan yang merugikan masyarakt seperti korupsi dan penyalahgunaan wewenang oleh pemegang kekuasaa dan belum tersentuh penegakkan hukum dan juga difungsikan untuk menggerakkan masyarakat untuk memperbaiki etos kerja, menumbuhkan inovatif dan kreatifitas dan menciptakan solusi atas permasalahan yang sedang terjadi serta menghilangkan tendensius menciptakan kebenciat pada institusi kecuali yang bermasalah dan merugikan rakyat dinegeri ini.
Jumat, 10-Februari-2012
saya ragu dengan integritasnya banyak terkesan menjelekan pemerintah seolah tanpa kebaikan di pemerintahan (membuat opini buruk)dan tidak berimbang.
seperti ada pesan dari seseorang yang punya kepentingan.
Jumat, 10-Februari-2012
saya ragu dengan integritasnya banyak terkesan menjelekan pemerintah seolah tanpa kebaikan di pemerintahan (membuat opini buruk)dan tidak berimbang.
seperti ada pesan dari seseorang yang punya kepentingan.
Jumat, 10-Februari-2012
Media mass khususnya grup Media Indonesia lebih lugas dan berani kritisi problem elit elit kekuasaan terutama santer news kasus wisma atlit. Hanya saja patut diawasi pembaca a pemirsa soal kepentingan Nasdem jadi hrs tetapi professional, ok met ultra pers national ....
Jumat, 10-Februari-2012
Media mass khususnya grup Media Indonesia lebih lugas dan berani kritisi problem elit elit kekuasaan terutama santer news kasus wisma atlit. Hanya saja patut diawasi pembaca a pemirsa soal kepentingan Nasdem jadi hrs tetapi professional, ok met ultra pers national ....