Bukan Negeri Preman

Metro View | Minggu, 19 Februari 2012 16:33 WIB

Suryo
Suryopratomo

POLISI hari Sabtu dinihari menangkap seorang debt collector, John Kei yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap seorang pengusaha. Polisi mengerahkan ratusan anggotanya untuk membekuk tersangka yang dikenal sebagai pemimpin kelompok penagih utang.

Tidak mudah bagi polisi untuk membekuk tersangka, karena ia selalu dijaga secara ketat oleh para pengikutnya. Bahkan setelah ditangkap dan dirawat Rumah Sakit Polri akibat luka tembakan pada kakinya, polisi terpaksa menugaskan banyak aparat untuk menjaga tersangka.

Polisi memang dihadapkan kepada tantangan yang tidak ringan. Seusai penangkapan dilakukan, polisi sempat diancam bahwa kondisi kota Jakarta tidak ditanggung keamanannya apabila terjadi sesuatu dengan John Kei.

Sosok polisi sebagai pemegang dan pengendali keamanan dan ketertiban kota memang benar-benar diuji. Sejauh mana lembaga penegak hukum dan pemegang sah pengendali keamanan serta ketertiban lebih kuat dibandingkan kelompok-kelompok masyarakat.

Sudah terlalu lama, terutama Jakarta, dibiarkan dikuasai kelompok-kelompok tertentu. Kelompok-kelompok itu bukan hanya diberi kesempatan untuk menjadi "penguasa" wilayah, tetapi mengokohkan kaki mereka.

Tanpa terasa kota kemudian dikuasai kelompok-kelompok tertentu. Bahkan ketika terjadi perebutan wilayah kekuasaan di antara mereka, kelompok-kelompok itu saling mengumbar kekuatannya. Polisi membiarkan dirinya kehilangan kewibawaannya di mata kelompok-kelompok itu.

Sekarang ini keadaan bahkan semakin lebih buruk lagi. Polisi tidak lagi dianggap sebagai penegak hukum yang harus ditakuti dan disegani. Bahkan ketika para pelajar saling berkelahi di jalanan, mereka tidak pernah takut ketika polisi datang untuk mencoba melerai.

Dengan kondisi seperti itu, tidak usah heran apabila polisi tidak percaya diri, bahkan untuk menegakkan hukum. Mereka seperti kalah wibawa dibandingkan dengan kelompok-kelompok masyarakat. Apalagi ketika mereka membiarkan diri menjadi bagian dari kelompok-kelompok kekuatan itu.

Keadaan ini sebenarnya sangat berbahaya bagi upaya kita membangun keamanan dan ketertiban. Kekuasaan kelompok-kelompok kekuatan di masyarakat jauh lebih besar dibandingkan kekuasaan polisi. Akibatnya, kota ibaratnya dikuasai oleh para preman dibandingkan aparat yang sah.

Kita tentu mengharapkan agar kota dan negeri ini janganlah sampai dikuasai oleh para preman. Negeri dan kota harus dikuasai para penegak hukum yang sah agar kehidupan masyarakat diatur oleh hukum, bukan oleh siapa yang lebih kuat.

Untuk itu momentum penangkapan John Kei harus dijadikan momentum untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban kota. Polisi harus berani untuk membersihkan kelompok-kelompok preman yang selama ini menguasai kota.

Tanpa ada kesungguhan polisi untuk menindaklanjuti momentum ini, maka penangkapan John Kei bisa dianggap sebagai upaya pemberangusan kelompok tertentu saja. Ini bukan hanya menimbulkan kecurigaan adanya diskriminasi, tetapi membuka peluang munculnya kelompok kekuatan yang baru.

Kalau ini yang terjadi, maka Jakarta tidak pernah akan bebas dari premanisme. Padahal sekarang ini kekuatan itu begitu nyata dan mereka jauh lebih berkuasa daripada polisi. Mereka begitu mudah untuk menebar ketakutan kepada kelompok masyarakat.

Padahal negeri ini harus dibangun berdasarkan aturan yang benar. Semua harus mengacu kepada hukum yang berlaku. Janganlah  negeri ini ditentukan oleh kelompok-kelompok kekuatan. Siapa yang lebih kuat, dialah yang paling berkuasa.

Kalau negeri ini dibiarkan diatur oleh kekuatan masyarakat, maka yang akan terjadi, manusia akan menjadi serigala bagi yang lain. Ini akan semakin menjauhkan kita untuk membangun demokrasi yang bisa menyejahterakan rakyat.

Pekerjaan rumah ini jangan dilakukan secara setengah-setengah. Sekarang ini kewibawaan polisi benar-benar sedang diuji. Sekali mereka gagal menegakkan kewibawaannya, maka hancurlah masa depan negeri ini. Oleh karena itu kita mendukung upaya polisi menegakkan hukum dan mereka tidak boleh sampai gagal dalam mengemban tugas mulia itu.



©MetroTVNews.com

Komentar
Nama:
Email:
Komentar:
Kode Keamanan:
don lusa,
Minggu, 26-Februari-2012

Jika negeri ini mau bebas dari preman, maka terlebih dahulu bersihkan lembaga kepolisian dari preman berbaju polisi kemudian berlatih menjadi polisi yang profesional yang tangkas yang sigap yang cerdas yang cerdik yang berwibawa yang taat pada sumpah jabatan kemudian baru diikuti pembersihan preman-preman diluar korps kepolisian pasti hasilnya maksimal dan bisa dirasakan manfaatnya oleh bangsa dan negara, tapi jika cuma lips service alias omong doang maka negeri preman ini tetap langgeng dan yang dirugikan selain negara dan bangsa ini melainkan seluruh lapisan masyarakat negeri. Jadi coba lakukan langkah perbaikan pak Timur Pradopo!! Dimulai sekarang juga bersihkan preman yang pakai baju polisi kemudian bersihkan preman dilembaga birokrasi, diparlemen di lembaga yudikatif baru menuju kepreman dimasyarakat umum!! Bisa engga?
 
ratih,
Sabtu, 25-Februari-2012

Polri:" mending piara preman rajin setor, drpd mhsiswa demo mlulu ."
 
triyn,
Kamis, 23-Februari-2012

Polisi kan sdh wewenang penuh kenapa gak berwibawa,itu akibat dari ulahnya sendiri,rakyatpun sdh memberi wewenang utk pegang senjata,kenapa gak di gunakan untuk membrangus preman,,,,,ayo pak polisi aku menunggu tanggung jawabmu,
 
paulus ferdinant,
Senin, 20-Februari-2012

polisi harus menegakkan dan mengkokohkan wibawanya..kemana rakyat akan berlindung jika lembaga kepolisian tidak mempunyai kekuatan..kelompok2 trsbt harus di berantas dan di bumi hanguskan karena mereka tdk manusiawi dalam beroperasi dan hanya menjadi "anjing-anjing " oknum tertentu..polisi adalah ujung tombak rakyat utk menjaga ketertiban masyarakat..krn polisi menjaga kepentingan masyarakat ,bangsa dan negara..jalankan tugas sesuai dengan aturan dan prosedur maka tidak ada yang akan tersakiti dan ini menjadi masalah kita bersama..demokrasi tidak akan berjalan apabila hukum tidak di tegakkan...viva polisi.
 
difa,
Senin, 20-Februari-2012

sesungguhnya yg menjelek2an fpi itu adalah orang2 yg tdk tau berita sesungguhnya faktanya,hanya ikut2an saja,pake embel2 nama islamlah di komentnya,nama saja islam tp ahlaqnya tdk ada,istilah kasarannya ktp doank islam,kalo di tanya islam itu gmn tdk tau,,jgn2 ikut2an menjelek2an fpi di bayar brp sih??