Metrotvnews.com, Jakarta: Fenomena benda langit jatuh ke Bumi kembali terjadi. Kali ini di wilayah pegunungan Ural, Rusia pada Jumat (15/2) pagi waktu setempat, dan dikabarkan mencederai lebih dari seribu orang.
Menurut pakar astronomi dan astrofisika Lembaga Penerangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin tumbukan benda langit dengan Bumi tersebut merupakan kejadian yang wajar.
"Ada jutaan benda langit yang melayang di udara dan sebagai salah satu benda langit pula maka posisi Bumi amat memungkinkan untuk bertumbukan dengan benda langit lainnya," jelas Thomas kepada Media Indonesia saat dihubungi, Sabtu (16/2).
Benda langit sendiri menurut Thomas terbagi-bagi menjadi berbagai kategori seperti planet, satelit, lalu bintang sebagai pusat tata surya. Planet dan satelit kerap memiliki orbit sendiri dan biasanya juga mengorbit bintang sebagai pusat tata surya. "Dalam tata surya kita Bumi serta satelitnya, bulan dan tujuh planet lainnya mengorbit matahari," ujar Thomas.
Sedangkan benda langit lainnya yang tidak memiliki orbit sendiri yakni asteroid dan komet. "Kalau asteroid itu materi pembangunnya cenderung lebih padat, sedangkan komet lebih banyak memiliki unsur air yang beku menjadi es, itu sebabnya komet kerap berpijar saat mendekati matahari. Sedangkan yang kita istilahkan meteor itu yakni komet dan asteroid yang mendekati atmosfer Bumi," papar Thomas.
Menurut Thomas, komet dan asteroid ini jumlahnya jutaan yang ada di dekat Bumi, dan karena mengapung saja di luar angkasa maka potensi memasuki atmosfer Bumi cukup besar. Namun sayangnya, meski posisi Bumi amat rentan terhadap tumbukan benda-benda langit, namun hingga saat ini belum ada early warning system terhadap kemungkinan tumbukan tersebut.
"Paling hanya satu persen saja yang bisa kita deteksi ancamannya, itupun kalau sudah cukup dekat dengan atmosfer Bumi, karena itu teknologi juga terus dikembangkan agar bisa membuat pendeteksi ancaman tersebut," jelas Thomas. (Soraya Bunga Larasati/Ray)