NEWSTICKER

Kompolnas Dorong Reformasi Kultural di Tubuh Polri

31 October 2022 07:29

Institusi Polri terus mendapat sorotan sejak Juli 2022 dan sayangnya sorotan tersebut bukan karena prestasi. Melainkan perilaku para oknum yang mencoreng nama baik Polri sehingga menggerus kepercayaan masyarakat kepada institusi Polri.

Anggota Kompolnas, Albertus Wahyurudhanto menyatakan kinerja Polri prinsipnya harus didukung oleh dua hal yang pertama yakni legalitas dan yang kedua legitimasi. Menurut Wahyu prinsip legitimasi dari Polri tersebut yang masih berlarut-larut sejak 2005 ketika pertama kali diluncurkan birokrasi reformasi Polri.

Wahyu menjelaskan birokrasi reformasi Polri terdapat tiga poin yakni struktural, instrumental dan kultural, di dalam kultural terdapat legitimasi atau yang sering disebut sebagai kepercayaan publik. Menurut Wahyu, soal arahan Kapolri ke anggotanya untuk merespon atau tidak mengabaikan masyarakat ketika terdapat laporan merupakan masalah kultural.

"Saya kira itu problem kultural karena kebiasaan-kebiasaan inilah yang harus dirubah. Ini kan kebiasaan yang memposisikan polisi itu bukan sebagai pelayan tapi sebagai penguasa. Ini yang saya rasa harus dirubah secara total." ujar Anggota Kompolnas Albertus Wahyurudhanto dalam tayangan Metro Pagi Primetime Metro TV, Senin (31/10/2022)

Wahyu menyebutkan berkali-kali bahwa percepatan reformasi kultural harus dilakukan secara radikal dengan melakukan amputasi gerakan-gerakan yang tidak benar sesuai arahan presiden. 

Wahyu juga menjelaskan bahwa arahan dari presiden menunjukkan publik ingin melihat kehadiran Polri selain sebagai institusi pelayan publik dan penegak hukum, namun sebagai figur panutan masyarakat.

"Itulah saya kira memang ini tugas berat, itu yang saya sebut sebagai legalitas oke, tetapi legitimasi ini juga harus dibangun. Kalau ini enggak dilakukan, maka yang terjadi sebagus-bagusnya kinerja polri, masyarakat tetap akan menilai negatif karena berbicara masalah persepsi." jelas Albertus Wahyurudhanto