Seorang pendukung Houthi membawa rudal tiruan selama demonstrasi di Sana'a, Yaman, 1 November 2024. (EPA/YAHYA ARHAB)
Resmi Ikut Perang, Houthi Gempur Israel dengan Serangan Rudal
Riza Aslam Khaeron • 28 March 2026 14:49
Sana'a: Kelompok Houthi yang didukung Iran secara resmi memasuki kancah perang di kawasan dengan meluncurkan serangan rudal balistik ke wilayah selatan Israel pada Sabtu pagi.
Serangan tersebut merupakan yang pertama kalinya dilakukan kelompok asal Yaman tersebut sejak perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pecah pada 28 Februari lalu.
Melansir Times of Israel, sirene peringatan berbunyi di Beersheba dan sekitarnya sesaat setelah serangan diluncurkan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa satu rudal yang ditembakkan dari Yaman berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara tanpa menimbulkan korban jiwa.
Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan melalui kanal Telegram mereka, Komandan Militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Pernyataan tertanggal 28 Maret 2026 yang bertepatan dengan 9 Syawal 1447 H itu menyebutkan bahwa mereka menargetkan "sasaran militer sensitif" milik "musuh Israel" di wilayah selatan Palestina yang diduduki.
"Sebagai implementasi dari apa yang dinyatakan dalam pernyataan sebelumnya angkatan bersenjata Yaman mengenai intervensi militer langsung untuk mendukung dan membantu perlawanan di Iran, kelompok-kelompok perlawanan di Lebanon, Irak, dan Palestina, dan mengingat terus berlanjutnya eskalasi militer dan penargetan kepemimpinan serta kejahatan yang dilakukan terhadap warga di Lebanon, Iran, Irak, dan Palestina, maka angkatan bersenjata Yaman dengan pertolongan Allah melaksanakan operasi militer pertama berupa salvo rudal balistik yang menargetkan sasaran militer sensitif musuh Israel di selatan Palestina yang diduduki," demikian bunyi pernyataan resmi Houthi.
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa operasi ini dilakukan selaras dengan operasi-operasi yang dilaksanakan oleh rekan pejuang di Iran dan Hizbullah di Lebanon, serta diklaim berhasil mencapai tujuannya.
| Baca Juga: Iran Digempur AS-Israel, Kenapa Houthi Diam Saja? |
"Operasi kami dengan pertolongan Allah akan terus berlanjut hingga tujuan yang diumumkan tercapai sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan sebelumnya angkatan bersenjata dan sampai agresi terhadap seluruh pihak perlawanan berhenti."
Serangan ini terjadi sehari setelah kelompok tersebut memperingatkan kesiapan mereka untuk melakukan intervensi militer jika negara lain bergabung dengan Amerika Serikat dan Israel dalam kampanye melawan Iran, atau jika Laut Merah digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Republik Islam Iran.
"Kami menegaskan bahwa jari kami berada di pelatuk untuk intervensi militer langsung," tegas juru bicara militer kelompok tersebut, Yahya Saree, dalam pidato televisi pada Jumat malam. Saree juga menyatakan bahwa Houthi siap bertindak jika eskalasi terhadap Iran dan "poros perlawanan" terus berlanjut.
Keterlibatan Houthi meningkatkan kekhawatiran akan konfrontasi regional yang lebih luas, mengingat kemampuan kelompok tersebut untuk menyerang target jauh di luar Yaman dan mengganggu jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab.
Sekutu Iran di Lebanon dan Irak sebelumnya telah lebih dulu terlibat dalam perang yang dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap Teheran.
Dalam pidatonya, Saree juga menegaskan bahwa Houthi tidak akan mengizinkan Laut Merah digunakan untuk melakukan "operasi permusuhan" terhadap Iran atau negara Muslim mana pun. Ia memperingatkan agar tidak ada pengetatan lebih lanjut terhadap blokade di Yaman.
Saree menyerukan penghentian segera serangan AS dan Israel terhadap Iran beserta sekutunya, termasuk di wilayah Palestina, Lebanon, dan Irak, serta mendesak penerapan kesepakatan gencatan senjata di Gaza.