Pendukung Houthi. (via cfjustice.org)
Iran Digempur AS-Israel, Kenapa Houthi Diam Saja?
Riza Aslam Khaeron • 8 March 2026 15:18
Jakarta: Perang Iran secara resmi telah berlangsung selama lebih dari seminggu tanpa menunjukkan tanda-tanda deeskalasi dari kedua belah pihak.
Konflik yang dipicu oleh serangan Washington dan Tel Aviv hingga mengakibatkan kematian Pemimpin Agung Iran, Ayatullah Ali Khamenei, ini telah menyeret berbagai aktor di luar ketiga negara utama ke dalam pusaran pertikaian, termasuk Hizbullah di Lebanon yang merupakan bagian dari "poros perlawanan" Iran.
Namun, di tengah berkecamuknya perang, salah satu proksi utama Iran justru tampak bergeming. Houthi, kelompok proksi Syiah Iran di Yaman, masih memilih untuk duduk diam mengamati situasi.
Kelompok ini dikenal sebagai salah satu proksi Iran yang paling berhasil, bahkan mampu menyaingi pemerintah Yaman yang diakui PBB dan menguasai ibu kota Sana’a.
Pasca-kematian Khamenei, pemimpin kelompok tersebut, Abdul-Malik al-Houthi, sempat menyatakan mereka "berdiri bersama Republik Islam Iran" serta "rakyat muslim Iran" dan menegaskan kesiapan untuk "menghadapi perkembangan apa pun".
Meski demikian, setelah lebih dari satu minggu berlalu, Sana’a belum melancarkan pergerakan militer apa pun, hanya memberi dukungan lewat retorika dan protes massal di Sana'a. Lantas, apa alasan di balik kesunyian Yaman ini?
Kekhawatiran Eskalasi Menghadapi AS-Israel
.jpg)
Para menteri Houthi yang tewas dalam serangan Israel pada bulan Agustus. (Dok. Ansar Allah)
Melansir laporan Middle East Eye (MEE), Houthi diduga merasa khawatir terhadap eskalasi besar yang mungkin terjadi jika mereka memutuskan untuk terlibat.
Sejumlah analis menilai kelompok ini sedang melakukan kalkulasi matang mengenai dampak militer dan politik sebelum mengambil langkah yang dapat memperluas skala konflik.
Farea al-Muslimi, peneliti dari Chatham House, berpendapat bahwa penundaan respons Houthi berkaitan erat dengan kalkulasi politik domestik mereka.
“Houthi tidak bisa mengambil risiko dianggap sedang berperang semata-mata demi melayani kepentingan Iran, alih-alih demi kepentingan Yaman sendiri,” tulisnya di akun facebooknya.
Pandangan senada disampaikan oleh editor Aden al-Ghad, Fatehi bin Lazreq. Ia menilai kelompok tersebut masih mempelajari perkembangan perang sebelum menentukan langkah strategis berikutnya.
“Houthi masih mempelajari situasi dan akan membuat keputusan berdasarkan tantangan-tantangan yang dihadapi Iran,” ucapnya, melansir MEE.
Sejumlah analis menggambarkan pendekatan Houthi saat ini sebagai bentuk “eskalasi terukur” (calculated escalation).
Artinya, ada kemungkinan mereka akan meningkatkan serangan secara bertahap jika akhirnya memutuskan untuk bertindak, dan kemungkinan besar akan membingkai langkah tersebut sebagai upaya pembelaan diri, bukan sekadar bentuk solidaritas terhadap Iran.
Di saat yang sama, Houthi juga sangat berhati-hati agar tidak memicu serangan balasan dari Amerika Serikat. Wilayah yang mereka kuasai saat ini masih tertatih akibat gelombang serangan AS dan Israel sebelumnya.
Pada Agustus tahun lalu, serangan Israel berhasil menewaskan perdana menteri dan beberapa menteri dalam pemerintahan Houthi. Serangan lainnya juga menghantam infrastruktur vital seperti pelabuhan Hodeidah—pelabuhan terbesar di Yaman—serta fasilitas penyimpanan minyak, pembangkit listrik, dan pabrik semen.
Muslimi menilai kondisi tersebut memaksa Houthi untuk berhitung dengan cermat sebelum terjun ke konflik baru.
“Kelompok ini masih dalam tahap pemulihan dari serangan besar AS yang mereka alami setahun terakhir, yang melemahkan aspek penting dari struktur militer mereka. Memasuki konfrontasi baru saat ini membawa risiko yang sangat nyata,” ujarnya.
| Baca Juga: Disebut Rencanakan Invasi, Siapa Saja Kelompok Perlawanan Kurdi Iran? |
Apa yang Bisa Dilakukan Houthi?

Kapal diserang Houthi di laut merah. (Dok. Media Ansar Allah)
Jika pada akhirnya memutuskan untuk terlibat dalam perang Iran, Houthi memiliki beberapa opsi militer strategis. Salah satunya adalah menyerang Israel secara langsung.
Dr. Luca Nevola, analis senior untuk Yaman dan Teluk di ACLED, menyampaikan kepada Calibre Defence bahwa serangan terhadap Israel bisa menjadi respons yang paling cepat sekaligus simbolis.
“Serangan baru terhadap Israel akan merepresentasikan respons yang paling segera dan secara simbolis konsisten bagi Houthi,” ungkapnya.
Selain Israel, aset militer Amerika Serikat juga dapat menjadi sasaran empuk. Kapal-kapal perang AS yang beroperasi di Laut Merah atau pangkalan militer Amerika di kawasan, seperti di Bahrain, tetap rentan jika Houthi memutuskan untuk memperluas cakupan konflik.
Di sisi lain, sejumlah analis melihat Houthi sebagai “kartu cadangan” bagi Iran dalam konflik ini. Pengamat politik Yaman, Sadam al-Huraibi, menyebutkan bahwa kelompok tersebut kemungkinan besar baru akan terjun ke medan laga jika Teheran memintanya secara eksplisit.
“Teheran tidak ingin menggunakan semua kartu mereka sekaligus, dan bertujuan menyimpan kelompok Houthi untuk fase mendatang,” jelasnya kepada Al-Jazeera.
Houthi sendiri terbukti masih mampu menciptakan kekacauan di Laut Merah, di mana mereka berulang kali melancarkan serangan terhadap jalur pelayaran komersial dengan dalih dukungan terhadap Gaza.
Al-Huraibi juga menilai bahwa keterlibatan Houthi mungkin hanya tinggal menunggu waktu jika perang terus berlanjut.
“Saya percaya bahwa masuknya Houthi ke dalam perang ini hanyalah masalah waktu,” pungkasnya.