Nama Alamanda Shantika tak bisa dilepaskan dari pesatnya ekosistem teknologi digital di Indonesia. Di tengah kuatnya stigma bahwa dunia coding (pemrograman) adalah domain maskulin, perempuan yang akrab disapa Ala ini justru tampil sebagai salah satu CEO wanita yang sukses memimpin perusahaan teknologi pendidikan, Binar Academy.
Ketertarikan Ala pada teknologi dan sains sudah dipupuk sejak usia belia. Pada usia 12 tahun, ia sudah mengenal bahasa pemrograman. Hal ini tak lepas dari peran orang tuanya yang memperkenalkan matematika sejak ia berusia 4 tahun tanpa memaksakan kehendak.
"Orang tua saya tidak pernah menuntut saya harus ahli di satu bidang tertentu atau menjanjikan hadiah atas nilai bagus. Mereka membiarkan saya mengeksplorasi apa yang saya suka dan bertanggung jawab atas pilihan itu. Saya tidak pernah merasa bahwa teknologi atau coding itu maskulin, sehingga saya bebas masuk ke dunia itu. Bagi saya, memecahkan soal matematika itu seperti menyelesaikan teka-teki, rasanya membahagiakan sekali," ungkap Alamanda dalam program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis 5 November 2026.
Filosofi kebebasan berekspresi dan penyelesaian masalah dibawa dalam membangun Binar Academy. Ala merancang sekolah teknologi yang tidak sekadar mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga meneliti metode pedagogi agar pesertanya menjadi pembelajar alami.
"Selama 10 tahun berdiri, Binar Academy telah mengajar sekitar dua juta siswa. Ini membuktikan tingginya minat masyarakat Indonesia untuk belajar teknologi digital. Dulu di awal kita buka, porsi siswa perempuan di Binar hanya 10 persen, sekarang angka itu sudah naik menjadi 40 persen," ujar Ala.
Kini, peran Binar Academy kian relevan seiring pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI). Sekolah ini telah bekerja sama dengan banyak perusahaan
startup dan korporasi untuk melatih para karyawan mereka.
Ala menyebut, pendekatan Binar Academy selalu berorientasi pada penerapan ilmu. Menurutnya, banyak karyawan non-teknis dari perusahaan klien yang kini mampu menciptakan sistem atau aplikasi sendiri berkat pelatihan AI yang mereka terima. Selain itu, Binar Academy juga telah berhasil menyalurkan sekitar 2.000 talenta digital berbakat untuk bekerja di perusahaan-perusahaan klien mereka.
"Belajar itu bukan sekadar mendapatkan pengetahuan, tapi bagaimana mengaplikasikannya. Di Binar, kami selalu berusaha memberikan 'aha moment' agar peserta tahu bagaimana ilmu ini mempermudah pekerjaan sehari-hari," ucap Ala.