15 October 2026 17:35
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang baru, Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi, menargetkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat diselesaikan secepat mungkin dengan respons tanggap dalam hitungan menit.
"Targetnya as soon as possible, secepat mungkin. Rakyat sudah terdampak, jadi penanganannya harus responsif, ukurannya bukan jam lagi, tapi menit," ujar Kristomei usai dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, dikutip dari tayangan Breaking News Metro TV, Kamis, 15 Oktober 2026.
Sebelum resmi menjabat sebagai Kepala BNPB, Kristomei terlebih dahulu menerima kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi menjadi Letnan Jenderal TNI. Ia menyampaikan bahwa Presiden Prabowo menginstruksikannya untuk bergerak cepat dalam menangani berbagai potensi ancaman bencana di Tanah Air.
Dalam menjalankan tugas penanggulangan bencana, Kristomei mengusung empat prinsip kerja utama, yaitu kolaborasi, responsif, integratif, dan sinkronisasi. Ia mengibaratkan penanganan bencana seperti analogi tali tambang (rope analogy), di mana seluruh kementerian, lembaga, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat harus saling menopang dan tidak hanya bertumpu pada satu lembaga.
Selain mengoptimalkan aset dan personel dalam negeri, BNPB juga akan mengoordinasikan bantuan internasional yang telah disetujui Presiden Prabowo untuk percepatan penanganan karhutla. Pihaknya juga melakukan evaluasi ulang terhadap luasan lahan terbakar dengan mencocokkan data faktual di lapangan serta pantauan satelit SiPongi dan NASA.
"Yang paling penting adalah jangan sampai ada korban lagi. Untuk apa pun bencananya, yang paling utama kita katakan jangan ada korban jiwa," tegas Kristomei.
Di samping penanganan di lapangan, Kristomei akan melakukan konsolidasi dan pembenahan internal di tubuh BNPB. Terkait kasus hukum yang sempat melibatkan oknum di lembaga tersebut, ia menegaskan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat penegak hukum tanpa intervensi.