2 October 2022 17:10
Kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang usai kemenangan Persebaya dengan skor 3-2 atas Arema FC di Liga 1, setidaknya menelan sebanyak 130 nyawa suporter Aremania, Sabtu (1/10/2022). Tragedi Kanjuruhan tersebut menjadi tragedi kedua dalam sejarah kelam pertandingan sepak bola di dunia.
Berdasarkan data Priceonomics, kasus serupa pernah terjadi saat Laga Kualifikasi Olimpiade Tokyo antara Peru dengan Argentina di Stadion Nasional Lima (Estadio Nacional), Peru, 24 Mei 1964.
Wasit yang menganulir gol Timnas Peru menyulut kemarahan suporter Tokyo yang masuk ke lapangan dan memukulnya. Polisi pun turut bereaksi dengan memukul wasit secara brutal hingga menimbulkan perkelahian. Tragedi tersebut berujung pilu dengan menelan sebanyak 328 orang akibat sesak napas dan terjadi pendarahan internal.
Selain itu, tragedi memilukan dan paling terkenal di dunia juga terjadi saat laga Liverpool vs Nottingham Forest di Hillsborough, 15 April 1989. Akibat membeludaknya suporter, laga tersebut dihentikan. Sebanyak 766 orang dilaporkan mengalami luka-luka, 96 di antaranya meninggal dunia.
Sementara itu, Afrika sempat menduduki sejarah kelam kedua sebelum tragedi Kanjuruhan. Tragedi yang terjadi 9 Mei 2021 di Stadion Accra Sports, Kinbu Road, Accra, Ghana menelan korban jiwa sebanyak 126 akibat kekurangan oksigen. Kericuhan bermula ketika suporter Asante Kotoko frustasi atas kekalahan 1-2 Heart of Oak dengan menjebol kursi tribun dan melemparkannya ke lapangan.
Polisi menanggapi aksi tersebut dengan menembak gas air mata ke kerumunan dan menyebabkan kepanikan. Tragedi diperparah dengan gerbang stadion yang terkunci, sehingga membuat massa tidak bisa keluar.