Ahli Peringatkan Orang Tua Soal Risiko Mainan AI pada Balita-Melek Teknologi

Wijokongko • 24 March 2026 12:52

Jakarta: Tren kecerdasan buatan (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari dan merambah hingga ke kamar tidur anak-anak lewat mainan berteknologi chatbot. Meski sekilas terlihat canggih, riset terbaru dari Universitas Cambridge justru menyoroti dampak negatif di baliknya.

Menurut temuan para peneliti tersebut, mainan AI yang ditargetkan untuk anak usia dini (0-6 tahun) ternyata dinilai lebih berpotensi menghambat pertumbuhan esensial anak seperti:

  1. Kegagalan Merespons Emosi: Titik kelemahan terbesar mainan AI terletak pada ketidakmampuannya mengidentifikasi dan merespons isyarat emosional anak dengan tepat. Peneliti menemukan kasus ekstrem di mana saat seorang anak mengucapkan kalimat penuh kasih sayang seperti "Aku menyayangimu," perangkat chatbot pada mainan tersebut justru membalas dengan instruksi kaku terkait pedoman interaksi standar.
  2. Meragukan Motif Produsen: Jenny Gibson, seorang Profesor neurodiversity dan psikologi perkembangan dari Fakultas Pendidikan Universitas Cambridge, menyuarakan kekhawatirannya. Ia meragukan motif asli para produsen pembuat mainan AI dan menilai bahwa mereka bergerak murni demi meraup keuntungan komersial.
  3. Minim Riset: Di tengah antusiasme besar para orang tua untuk mengadopsi mainan pintar ini demi nilai edukasinya, Gibson mengingatkan bahwa penelitian jangka panjang mengenai efek AI terhadap mental anak sesungguhnya masih sangat minim.
  4. Manfaat Terbatas: Meskipun studi ini mengakui adanya manfaat positif dari mainan AI, keunggulan tersebut dinilai terbatas hanya pada dukungan pembelajaran kognitif, seperti melatih keterampilan bahasa serta komunikasi anak.
Mengingat risikonya yang tetap mengintai, tim peneliti menyarankan agar orang tua selalu memastikan mainan berbasis AI digunakan di area rumah yang mudah dipantau secara langsung. Selain itu, produk-produk tersebut idealnya wajib menyertakan label peringatan kemampuan alat dan transparansi kebijakan privasi data pengguna. (Daffa Yazid Fadhlan)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Wijokongko)