23 February 2026 21:22
?Keteguhan, pengorbanan, dan cinta luar biasa kepada orang tua mengantarkan Labib Khotob Ramadhan menapaki jalan mulia. Santri tahfizh asal Jakarta Selatan ini baru saja mencatatkan prestasi membanggakan dengan diterima di universitas Islam tertua di dunia, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Perjalanan Labib tidaklah mudah. Sejak usia empat tahun, ia telah dibimbing menghafal Al-Qur'an oleh kedua orang tuanya. Saat menamatkan pendidikan di MI Bait Qur’ani, Ciputat, Labib sudah mengantongi hafalan enam juz.
Memasuki jenjang MTs di pondok yang sama, Labib harus rela hidup terpisah dari keluarga. "Awalnya sangat sedih karena harus berpisah dari keluarga. Tetapi demi bisa membahagiakan orang tua, saya bertahan. Kata Allah, hafiz Quran kelak bisa memberikan syafaat masuk surga dan mahkota kemuliaan bagi kedua orang tuanya," ungkap Labib.
Bangkit dari Duka dan Keterbatasan
Target menembus Universitas Al-Azhar menuntut Labib bekerja ekstra keras. Ia memangkas waktu bermain demi memperdalam kemampuan bahasa Arab dan memperlancar hafalan (murojaah).
Di tengah perjuangan dan keterbatasan ekonomi keluarga, ujian terberat datang. Pada November 2025, Ibunda tercinta yang menjadi sumber kekuatan utamanya berpulang ke Rahmatullah. Kabar duka yang diterima di pondok pesantren itu sempat menjadi pukulan berat. Namun, alih-alih menyerah, kepergian sang ibu justru menjadi pemantik semangat Labib untuk mewujudkan cita-cita dan doa orang tuanya.
Kini, buah kesabaran itu terbayar lunas. Santri berprestasi yang aktif dalam berbagai lomba tahfizh dan dakwah ini bersiap menimba ilmu di Mesir. Kelak, Labib bercita-cita kembali ke Tanah Air untuk menjadi ulama dan mencetak generasi muda penghafal Al-Qur'an yang berakhlak mulia.