Warga Sikka Mulai Kembali Bekerja Meski Gempa Susulan Masih Terjadi

26 August 2026 10:27

Sebelas hari setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), warga di Kabupaten Sikka dan Nagekeo mulai berupaya bangkit meski bayang-bayang trauma dan gempa susulan masih terasa.

Di Kabupaten Sikka, jumlah pengungsi di Lapangan Gelora Samador dilaporkan menurun drastis. Dari semula 1.400 orang, kini tersisa ratusan warga yang masih bertahan di tenda-tenda darurat. Sebagian besar warga dari desa pesisir, seperti Desa Wuring dan Kota Uneng, memilih kembali ke rumah untuk melanjutkan untuk bekerja.

“Warga mau tidak mau harus kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, meskipun gempa susulan terkadang masih terjadi,” lapor jurnalis Metro TV, Nadia Soraya, dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Rabu, 26 Agustus 2026.

Sementara itu, bantuan logistik dari pemerintah dan pihak swasta terus mengalir untuk menyokong kebutuhan warga yang masih bertahan di posko.
 


Kondisi berbeda terlihat di Kabupaten Nagekeo. Di Lapangan Berdikari, fokus utama petugas adalah pemulihan psikologis bagi anak-anak korban gempa. Kementerian Sosial bersama Tagana gencar melakukan kegiatan trauma healing melalui permainan, menggambar, dan bernyanyi.

Petugas Tagana, Reisja, mengungkapkan bahwa pendampingan ini sangat krusial karena banyak anak yang masih mengalami trauma berat. Ketakutan akan potensi tsunami membuat mereka panik setiap kali mendengar deru angin kencang atau merasakan getaran kecil.

“Beberapa anak yang memang masih trauma. Khususnya mereka yang ada tinggal di pesisir pantai yang merasakan dampak langsung dari gempa. Mereka panik karena ada potensi tsunami. Sangat panik dan sangat merasakan ketakutan bahkan ada anak yang umur satu setengah tahun itu dia sampai sekarang belum baik, masih trauma mendengar deru angin atau ada goncangan anak itu akan panik seketika,” ujar Reisja.

Upaya pemulihan di kedua kabupaten ini terus berjalan dengan melibatkan berbagai pihak. Meski situasi mulai kondusif, pendampingan psikologis dan penyaluran bantuan logistik tetap menjadi prioritas hingga kondisi mental masyarakat, terutama anak-anak, pulih sepenuhnya.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X