Jakarta: Presiden Prabowo Subianto mengatakan, dalam konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel, menunjukkan pentingnya kesiapan jangka panjang. Meminjam istilah Vegetius, Sic vis pacem, para bellum. Kalau ingin damai, bersiaplah untuk perang.
Bagi Presiden memang sifat manusia itu selalu ingin dominasi yang lain. Ini sifat, hakikat manusia. “Dengan dominasi, dia bisa menentukan,” ujar Presiden Prabowo Subianto dalam sesi tanya jawab dengan jurnalis di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Kamis, 19 Maret 2026.
Melalui sejarah ribuan tahun, manusia condong selalu perang dan sifat perang adalah destruktif serta mengerti bahwa perang itu sangat jahat.
"Perang itu destruktif. Perang itu harus kita hindari.
At all cost. Tapi, terlalu naif. Kita terlalu baik, (jika) Kita nggak mau siap untuk perang,” tegas Presiden.
“Kita nggak mau belajar perang. Kita nggak mau perlengkapi diri untuk perang. Kita justru akan dihabisi,” imbuh Presiden Prabowo.
Hal itu yang dilihat Presiden Prabowo dalam perang yang terjadi antara
Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
“Harus kita akui, Iran itu persiapannya lama. Dan dia sendiri mengatakan, kami sudah siap perang ini sudah puluhan tahun. Dia di-embargo bahkan terkena sanksi. Berapa tahun itu? 47 tahun,” ucap Presiden.
Menurutnya, ada banyak pro dan kontra tentang rezimnya dan sebagainya. Tapi, bahwa dia berani dan siap perang lawan kekuatan sangat besar.
Iran menurut Presiden menyerang sesudah diserang dan mereka punya kemampuannya itu. Jadi, 47 tahun, Iran tidak hanya diam dan benar-benar membangun persiapan.
Meski menghadapi embargo dan sanksi selama puluhan tahun, Iran dinilai mampu membangun kapasitas pertahanan yang signifikan.
Pelajaran utama dari berbagai peristiwa tersebut adalah bahwa ketahanan pangan dan kesiapan pertahanan merupakan dua aspek yang tidak terpisahkan dalam menjaga kedaulatan negara.
Sejarah berulang kali menunjukkan, bangsa yang tidak siap menghadapi krisis -,baik pangan maupun keamanan,- akan berada dalam posisi rentan di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Presiden melihat pentingnya dalam persiapan. Meminjam pelajaran dari Ahli sejarah Romawi, Vegetius, sekitar 2.500 tahun lalu.
“
Sic vis pacem, para bellum. Kalau kamu mau damai, bersiaplah untuk perang,” tegas Presiden.