Vihara Thai Hin Bio, salah satu vihara tertua di Provinsi Lampung yang juga menjadi saksi letusan Gunung Krakatau 143 tahun silam, sedang dipersiapkan untuk menyambut Imlek 2026. Bangunan berarsitektur Tionghoa klasik ini telah menjadi saksi perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Lampung selama ratusan tahun.
Pilar-pilar dan lilin merah yang terpajang dari depan pintu masuk altar, serta aroma dupa yang terasa khusyuk, menambah kuat nuansa sejarah dan spiritual di tempat ini.
Menurut rohaniawan Vihara Thay Hin Bio, Romo Joni Kardianto, vihara ini bukan hanya tempat ibadah saja, melainkan juga pusat kebersamaan dan pelestarian tradisi.
Keberadaan vihara ini juga menjadi bagian dari wajah keberagaman di Kota Bandar Lampung. Di tengah perbedaan, tempat ini menjadi simbol toleransi dan harmoni yang telah terjaga sejak lama.
"Mulai dari 1886 ya, itu ada di depan itu ada kotak ya, itu kecil waktu habis Gunung Krakatau meletus. Orang yang selamat kumpul-kumpul ya kan, nah mereka mengucap syukur ya jadi kumpul di sana," kata Romo Joni, dalam program
Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu, 14 Februari 2026.
"Akhirnya berkembang-berkembang zaman berkembang. Nah karena waktu itu pun ya memang suasana negeri kita demikian ya, negeri kita belum merdeka tapi tanah air kita kan. Nah mereka waktu itu baik ya meskipun sini ada musibah, tapi baik jadi kumpul banyak mereka mengumpul untuk mendukung membangun vihara," katanya.