Disertasi Karya Dr Supriyanto Tawarkan Solusi Pemerataan Layanan Kesehatan

27 January 2026 23:06

Indonesia ternyata telah memiliki model manajemen rumah sakit kelas dunia yang terbukti mampu menjamin akses layanan kesehatan yang adil, bermutu, dan berkelanjutan. Model berbasis konsep 'Hospital Without Walls' ini bukan sekedar gagasan, tetapi telah diterapkan secara nyata selama 11 tahun dan mendapatkan pengakuan internasional.

Model manajemen ini merupakan hasil penelitian Dr. Supriyanto, yang telah diuji dalam sidang terbuka disertasi di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Sidang tersebut menarik perhatian nasional karena mengangkat sistem pengelolaan rumah sakit yang dinilai relevan dengan agenda reformasi sistem kesehatan nasional.

Sejumlah pejabat tinggi negara hadir sebagai penyanggah, di antaranya Menteri Kesehatan, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Kehadiran para pejabat ini menegaskan bahwa model 'Hospital Without Walls' dinilai strategis dalam perumusan kebijakan publik di bidang kesehatan.

Model tersebut telah diterapkan secara konsisten di RSUD Dr. Iskak Tulungagung, Jawa Timur, melalui platform layanan PSC 119. Dengan sistem ini, pelayanan kesehatan tidak lagi terbatas pada gedung rumah sakit, melainkan menjangkau masyarakat secara aktif dan menyeluruh.

Penggagas model sekaligus penulis disertasi, Dr. Supriyanto, menegaskan bahwa inti dari Hospital Without Walls adalah menjamin akses layanan kesehatan yang setara bagi seluruh masyarakat.

“Masalah akses layanan kesehatan sebenarnya sudah selesai secara sistem. Tinggal mau dijalankan atau tidak,” ujarnya.
 

Baca juga: 4 Asuransi Kesehatan yang Tepat untuk Orang Tua

Model ini juga membuktikan bahwa pelayanan kesehatan bermutu tidak harus mahal, selama sistem dan manajemen dijalankan dengan tepat. Di RSUD Dr. Iskak, tidak ada pasien yang ditolak. Masyarakat tidak mampu tetap mendapatkan layanan kesehatan, bahkan ketika tidak sanggup membayar.

Keberhasilan tersebut mendapat pengakuan internasional setelah RSUD Dr. Iskak Tulungagung menerima penghargaan dari International Hospital Federation sebagai rumah sakit dengan tanggung jawab sosial terbaik di dunia.

Tak hanya diterapkan di daerah, konsep Hospital Without Walls juga digunakan dalam pemulihan kinerja RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Dalam waktu dua tahun, seluruh utang rumah sakit berhasil dilunasi, omzet meningkat signifikan, dan akses pasien ke layanan IGD semakin membaik.

“Di RSCM, seluruh utang lunas, subsidi untuk masyarakat miskin meningkat tajam, bahkan mampu menutup kesenjangan pembiayaan BPJS dan membiayai pasien yang tidak memiliki kemampuan bayar,” jelas Dr. Supriyanto.

Ia mencatat, nilai subsidi pelayanan kesehatan di RSCM mencapai Rp800 miliar pada 2024, dan meningkat hingga Rp1,2 triliun pada akhir 2025.

Menurut Dr. Supriyanto, model Hospital Without Walls berpotensi diterapkan secara nasional dalam waktu empat tahun, asalkan didukung regulasi yang jelas, kepemimpinan yang kuat, serta kolaborasi lintas kementerian.

“Paling lambat empat tahun, hingga 2029, bisa selesai secara nasional jika empat kementerian berkolaborasi, yakni Kementerian Kesehatan, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, dan kementerian yang membidangi teknologi informasi,” ujarnya.

Model Hospital Without Walls dinilai membuka jalan bagi reformasi sistem kesehatan nasional yang lebih adil, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional, mengingat kesehatan merupakan prasyarat utama pembangunan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)