18 September 2026 22:17
Jakarta: Keluarga dan kerabat delapan orang yang hilang bersama kapal Arupadhatu 1 menaburkan bunga di Selat Sunda setelah operasi pencarian resmi dihentikan. Meski pencarian berakhir, keluarga masih berharap kelima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut dapat ditemukan.
Kenzi Hafidzan Pranoto dan Rodiah Nasution, anak dan istri jurnalis iNews Yudistiro Pranoto, menaburkan bunga mawar merah dan putih ke laut di Pantai Carita. Keduanya tetap berharap Yudistiro dan tujuh orang lainnya dapat kembali ditemukan.
Rekan jurnalis Ari Basuki, Wens Manggut, mengatakan keputusan Basarnas menyatakan kedelapan orang tersebut hilang masih menyisakan kemungkinan mereka ditemukan.
“Seperti kita tahu bahwa Basarnas kemarin pun membuat kesimpulan hilang, di mana itu berarti masih ada. Ada kemungkinan masih ada. Nah, berharap bahwa dengan kemungkinan itu, dengan tabur bunga ini teman-teman itu pulang,” kata Wens dalam tayangan Primetime News Metro TV, Jumat 18 September 2026.
Dukungan juga diberikan kepada keluarga jurnalis Anadolu Firdaus Wajidi di Ciledug. Istri Firdaus, Astrid, mengaku menerima keputusan penghentian pencarian setelah memahami tim SAR telah bekerja maksimal.
“Karena mereka pun juga punya keluarga di rumah yang menunggu kan, anak istri tim Basarnas ini kan. Jadi saya tahu mereka juga sudah maksimal, jadi kita terima apa pun itu,” ujar Astrid.
Baca Juga :
Meski menerima keputusan tersebut, Astrid mengaku masih berharap ada tanda dari Firdaus dan tujuh orang lainnya.
“Hanya kita masih berharap memang agar segera ditemukan. Terlepas itu berapa lama, kita pengen wujudnya. Ada tanda aja dari mereka, berdelapan itu,” katanya.
Delapan orang tersebut hilang setelah kapal Arupadhatu 1 bertolak dari Dermaga Pagedongan, Pandeglang, untuk peliputan Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026.
Lima jurnalis tersebut yakni M Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis lepas.
Sementara tiga kru kapal terdiri dari Warta sebagai kapten, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), serta Heriyanto sebagai pemandu.
Sekitar 44 menit setelah keberangkatan, rombongan mengirimkan share location terakhir. Setelah itu, tidak ada lagi kabar dari delapan orang tersebut.