UMKM Roti Bekatul Semarang Tembus Pasar Ekspor, Ubah Limbah Jadi Produk Bernilai Tinggi

13 April 2026 14:53

Semarang: Sebuah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Semarang berhasil mengubah citra bekatul yang selama ini dikenal sebagai limbah atau pakan ternak menjadi produk pangan sehat bernilai ekonomi tinggi. Melalui inovasi tersebut, produk olahan bekatul bahkan telah menembus pasar internasional.

UMKM bernama Super Roti Bekatul ini mulai mengembangkan produk berbasis bekatul beras merah sejak 2015. Inovasi tersebut lahir dari keinginan untuk menghadirkan produk yang berbeda di tengah persaingan industri roti yang semakin ketat.

Pendiri Super Roti Bekatul, Ismiyati, mengungkapkan bahwa pada awal berdiri tahun 2011, usahanya masih memproduksi roti berbahan dasar tepung terigu seperti pada umumnya. Namun, seiring waktu, ia melihat peluang untuk menghadirkan produk yang lebih sehat dan unik.
 



“Awalnya kami sama seperti yang lain, membuat roti dari tepung terigu. Tapi sejak 2015 kami mulai berpikir harus punya produk yang berbeda. Kami melihat tren masyarakat yang semakin peduli pada kesehatan,” ujar Ismiyati.

Ia kemudian melakukan riset dan menemukan bahwa bekatul, yang selama ini dianggap limbah, memiliki potensi besar sebagai bahan pangan sehat. Bekatul beras merah pun dipilih dan dikombinasikan dengan bahan lain untuk menghasilkan berbagai produk olahan.

“Bekatul yang awalnya dianggap limbah atau pakan ternak, kami olah menjadi aneka produk seperti roti manis, cookies, pastry, hingga bagelan. Selain sehat, produk ini juga tetap enak dan layak dikonsumsi,” jelas Ismiyati.

Tak hanya berorientasi pada bisnis, inovasi ini juga bertujuan memberdayakan petani lokal penghasil bekatul yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.

“Kami ingin mengangkat bahan pangan lokal dan memberdayakan petani. Bisnis itu tidak bisa berkembang sendiri, harus ada kolaborasi agar bisa tumbuh bersama,” kata Ismiyati, menambahkan.

Saat ini, produk Super Roti Bekatul telah dipasarkan secara luas di dalam negeri, mulai dari Lhokseumawe hingga Papua. Bahkan, produk ini juga telah merambah pasar internasional dan tampil di berbagai ajang di luar negeri.

“Untuk pasar luar negeri, kami pernah hadir di Singapura, Belanda, Belgia, hingga Yordania,” ungkap Ismiyati.

Dari sisi harga, produk roti bekatul tergolong terjangkau, mulai dari Rp8.000 untuk roti manis hingga Rp250.000 untuk paket premium. Dengan strategi tersebut, usaha ini mampu mencatat omzet lebih dari Rp100 juta per bulan.

Selain itu, UMKM ini juga berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja lokal. Saat ini, Super Roti Bekatul mempekerjakan sekitar 20 karyawan tetap dan lima tenaga lepas, yang sebagian besar berasal dari warga sekitar.
 

“Alhamdulillah kami bisa menyerap tenaga kerja dari lingkungan sekitar. Ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk ikut membantu masyarakat,” ujar Ismiyati.

Ismiyati juga terus berinovasi dengan menghadirkan produk baru, salah satunya super crispy brownies berbahan mocaf (modified cassava flour). Produk ini dikembangkan sebagai bentuk dukungan terhadap kelompok tani penghasil mocaf.

“Produk ini kami buat untuk membantu menyerap hasil produksi mocaf dari kelompok tani, sekaligus menambah variasi produk kami,” katanya.

Keberhasilan Super Roti Bekatul menjadi bukti bahwa bahan pangan lokal yang sederhana, jika diolah dengan inovasi dan strategi yang tepat, dapat berkembang menjadi komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar global.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)