Gerakan Nurani Bangsa Bacakan Pesan Kebangsaan, Ingatkan Pemimpin Utamakan Kemaslahatan Rakyat

14 January 2026 10:11

Mengawali 2026, Gerakan Nurani Bangsa (GNB) membacakan 'Pesan Kebangsaan' sebagai bentuk refleksi atas berbagai dinamika yang melanda Indonesia sepanjang 2025. Pesan ini ditujukan langsung kepada para pemimpin bangsa agar menjalankan mandatnya demi kepentingan masyarakat luas.

Pertemuan yang digelar di Gedung Pemuda, Jakarta ini menyoroti tahun 2025 sebagai tahun yang penuh tantangan bagi stabilitas demokrasi dan tata kelola pemerintahan. Salah satu poin yang ditekankan adalah aksi demonstrasi besar-besaran pada akhir Agustus 2025 yang menjadi ujian bagi stabilitas nasional.

Dalam refleksinya, GNB memberikan kritik tajam terhadap kinerja tiga pilar kekuasaan negara yang dinilai masih jauh dari harapan rakyat:

  • Eksekutif: Dinilai tidak efisien dalam menangani persoalan di daerah. Salah satu contoh yang disorot adalah lambatnya penanganan pascabencana di wilayah Tamiang yang hingga kini masih dikeluhkan warga.
  • Yudikatif: GNB menilai belum ada perubahan signifikan dalam penegakan hukum. Praktik keadilan masih dirasakan 'tajam ke bawah' namun cenderung 'tumpul kepada teman atau kelompok tertentu'.
  • Legislatif: Kehadiran para wakil rakyat di parlemen justru memprihatinkan karena dianggap jarang menyuarakan opini yang mendukung penguatan nilai-nilai demokrasi.

Selain dinamika politik, GNB juga menyinggung duka di akhir 2025 akibat bencana alam yang melanda sejumlah wilayah seperti Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh. Bencana tersebut tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan infrastruktur pelayanan publik serta merusak harta benda warga. Penanganan bencana yang cepat dan tepat menjadi salah satu tuntutan utama GNB bagi pemerintah.
 
Baca juga: Paripurna, DPR Kawal 9 Isu Prioritas Mulai Super Flu hingga Alih Fungsi Hutan

Pesan Tokoh Bangsa: Pemimpin, Bukan Penguasa

Tokoh agama, Ignatius Suharyo, yang turut hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya integritas kepemimpinan. Ia berharap para pemegang kekuasaan benar-benar memposisikan diri sebagai pemimpin yang melayani, bukan sekadar penguasa.

"Saya berharap para pemimpin kita sungguh-sungguh memenuhi tanggung jawabnya sebagai pemimpin, bukan penguasa," tegas Ignatius Suharyo. 

Ia juga mengajak generasi muda, termasuk jurnalis, untuk memiliki semangat juang para pendahulu dalam mengutamakan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Pesan yang disampaikan para cendekiawan yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa ditujukan pada pemimpin negara, khususnya Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh istri dari mendiang presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nyai Sinta Nuriyah Wahid. Ia mengingatkan bahwa pengelolaan negara harus selalu bermuara pada kesejahteraan rakyat kecil.

"Kebijakan seorang pemimpin haruslah ditujukkan untuk kemaslahatan masyarakatnya. Dalam bahasa kami disebut Tasharruful imam 'alar ra'iyyah manuthun bil maslahah artinya bahwa kebijakan seorang pemimpin haruslah bertumpu bagi kemaslahatan rakyatnya," ujar Nyai Sinta. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)