22 January 2026 19:51
Dua bulan pascabencana banjir bandang yang menerjang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada akhir November 2025, Desa Seunong di Kecamatan Meurah Dua masih menyisakan pemandangan yang memilukan.
Area yang dulunya padat permukiman penduduk kini lenyap tak berbekas, berubah menjadi hamparan tanah kosong dan jalur sungai baru. Fenomena alam ekstrem terjadi di wilayah ini, di mana aliran sungai berpindah sejauh 100 meter dari jalur aslinya, menyapu daratan tempat warga tinggal.
Pantauan di lokasi, kerusakan infrastruktur terlihat sangat masif. Sejumlah rumah warga yang tersisa kini berada dalam kondisi kritis, tampak menggantung di tepian tebing sungai. Tanah di bawah bangunan terus tergerus erosi air, membuat rumah-rumah tersebut rawan amblas sewaktu-waktu.
Padahal, sebelumnya wilayah ini bukan merupakan daerah aliran sungai. Aliran sungai lama berada sekitar 100 meter dari lokasi permukiman warga, tetapi kini seluruh kawasan tersebut telah berubah menjadi jalur sungai baru.
Tak hanya rumah semi permanen, bangunan beton yang kokoh pun hancur diterjang derasnya arus. Selain itu, fasilitas umum vital seperti tempat pengajian, musala, hingga gedung sekolah dilaporkan hanyut terbawa banjir bandang.
Bertahan di Tenda Darurat
Di tengah kehancuran tersebut, warga yang kehilangan tempat tinggal kini masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Mereka mendesak pemerintah segera merealisasikan pembangunan Hunian Sementara (Huntara) agar bisa menata kembali kehidupan.
Kebutuhan akan hunian ini dirasakan kian mendesak mengingat bulan suci Ramadan yang akan segera tiba. Warga berharap dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang di tempat yang layak, tanpa dihantui kecemasan akan banjir susulan di tenda darurat.