Kepedulian terhadap kesehatan mental dan perkembangan motorik anak penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD) menginspirasi lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang untuk menciptakan inovasi kreatif. Mereka berhasil merancang "rompi pintar" bernama ADAPT-V yang berfungsi mendeteksi serta meredam kondisi tantrum pada anak autis secara otomatis.
Karya inovatif lintas disiplin ilmu ini bahkan sukses mencuri perhatian khusus dari Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka. Kelima mahasiswa tersebut bersama sejumlah inovator muda UB diundang secara khusus untuk mempresentasikan karya mereka di Istana Wakil Presiden, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Tim pengembang rompi ADAPT-V terdiri dari lima mahasiswa dari berbagai fakultas di UB, yang merangkap 1 mahasiswa kedokteran, 1 mahasiswa psikologi, serta 3 mahasiswa dari jurusan teknik elektro.
Berawal dari keikutsertaan mereka dalam persiapan ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2026, kelompok ini mengeksplorasi berbagai literatur kesehatan, jurnal ilmiah, hingga media sosial terkait penanganan anak autis. Dari penelusuran tersebut, mereka mendapati bahwa kondisi tantrum pada penderita ASD umumnya dapat diredam dengan memberikan pelukan hangat guna menstabilkan emosi sang anak.
Hanya dalam kurun waktu tiga bulan, tim berhasil merampungkan seluruh tahapan pengembangan purwarupa—mulai dari ide, konsep, perakitan perangkat keras, hingga penyempurnaan sistem.
Mekanisme Kerja Rompi ADAPT-V
Rompi pintar ini dirancang khusus untuk mendeteksi stres fisiologis secara real-time menggunakan dua sensor utama, yakni sensor detak jantung (BPM) dan sensor gerak (accelerometer).
Ketika sistem mendeteksi adanya anomali gerakan atau lonjakan detak jantung melebihi parameter normal, komputer mikro secara otomatis memerintahkan kompresor mini untuk memompa udara ke dalam kantung udara di dalam rompi. Tekanan udara ini dirancang untuk mensimulasikan sensasi pelukan dari orang tua atau pengasuh guna memberikan efek tenang bagi anak.
"Jadi ketika BPM dan gerakannya itu melewati parameter yang telah kami set atau gerakannya itu semacam anomali yang tidak teratur, nah itu akan mengaktifkan pompa yang akan menyedut udara dari luar ke dalam rompi," jelas Zakky Yahya, perwakilan mahasiswa tim pengembang.
Proses pembacaan anomali hingga rompi mengembang sempurna hanya memakan waktu antara 15 hingga 20 detik, disesuaikan dengan berat badan anak. Selain itu, rompi ini juga dilengkapi sensor tekanan untuk memastikan tekanan udara yang diberikan tidak berlebihan. Seluruh data pemantauan tersebut turut terintegrasi dengan aplikasi ponsel pintar serta smartwatch, sehingga orang tua dapat mengawasi kondisi anak dari jarak jauh.
Apresiasi Wapres dan Target ke Depan
Dalam pertemuan di Istana Wakil Presiden, Wapres Gibran Rakabuming Raka memberikan apresiasi langsung atas inovasi tersebut. Wapres mendorong para mahasiswa agar terus menyempurnakan karya ini hingga dapat diproduksi secara massal dan memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat.
Saat ini, tim mahasiswa menargetkan seluruh rangkaian penyempurnaan purwarupa dapat rampung pada akhir September 2026 ini, untuk kemudian diuji cobakan secara langsung kepada anak penyandang ASD. Rencananya, rompi ADAPT-V juga akan diikutsertakan sebagai karya unggulan dalam ajang PIMNAS akhir tahun mendatang.