18 August 2026 12:59
Nagekeo: Sebanyak 261 warga Desa Marokopot, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih mengungsi setelah gempa bumi yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Tiga hari berada di pengungsian, warga kini menghadapi keterbatasan air bersih dan fasilitas sanitasi.
Warga membutuhkan air bersih dan fasilitas sanitasi, karena pasokan air harus didatangkan dari wilayah yang cukup jauh. Kondisi ini mulai berdampak pada kesehatan warga.
Sejumlah anak-anak dan orang tua dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Warga juga kesulitan menggunakan toilet, karena keterbatasan air bersih.
Salah seorang pengungsi, Andipati, mengatakan kebutuhan mendesak bagi warga meliputi popok untuk lansia, susu bagi bayi dan balita, air bersih, serta fasilitas toilet.
“Kalau lansia yang paling dibutuhkan popok, dan anak-anak, bayi balita, susu, eh air bersih, kemudian dengan tempat buang air, WC gitu,” ujarnya dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Selasa 18 Agustus 2026.
Warga mengaku hanya dapat berlindung di atas bukit untuk mengantisipasi potensi tsunami. Saat gempa terjadi, air laut sempat naik hingga menuju kawasan permukiman.
Distribusi bantuan ke Desa Marokopot juga menghadapi tantangan. Perjalanan dari pusat bantuan di Labuan Bajo menuju lokasi pengungsian membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 12 jam.