Desa Hancur, Warga Nitunglea Tidur di Tenda Darurat

30 August 2026 23:31

Desa Nitunglea yang terletak di Pulau Palue menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerusakan terparah akibat guncangan gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pantauan langsung di lokasi menunjukkan puing-puing bangunan, mulai dari material batu bata, tembok, kayu, hingga atap seng, hancur berserakan dan tidak lagi bisa ditempati.

Untuk menghindari risiko tertimpa reruntuhan akibat gempa susulan, ratusan Kepala Keluarga (KK) di Desa Nitunglea kini terpaksa bertahan di tenda-tenda darurat yang didirikan di tengah lapangan desa.
 


Meski kondisi permukiman rusak parah, aktivitas warga setempat perlahan mulai kembali normal. Fasilitas dasar seperti jaringan listrik dan sinyal telekomunikasi di pulau tersebut dilaporkan dalam kondisi stabil dan terkendali.

Tim pemerintah kecamatan setempat telah bergerak menyalurkan bantuan logistik ke desa-desa terdampak di Pulau Palue. Distribusi kebutuhan pokok seperti beras, telur, susu, hingga kasur dipastikan telah mencukupi kebutuhan warga di pengungsian.

Kerusakan signifikan juga menimpa fasilitas ibadah, salah satunya Gereja Paroki Uwa Palue yang berlokasi tak jauh dari area pelabuhan. Tingkat kerusakan gereja tersebut mencapai 68 persen, sehingga membutuhkan waktu pemulihan yang cukup lama.

Akibatnya, para jemaat yang hendak melaksanakan ibadah ekaristi terpaksa mendirikan tenda dan melangsungkan peribadatan di halaman gereja.

Masa Tanggap Darurat Diperpanjang

Pemprov NTT secara resmi memperpanjang masa tanggap darurat bencana hingga 12 September 2026 mendatang.

Kebijakan ini turut berdampak pada sektor pendidikan. Siswa-siswi di wilayah Maumere dijadwalkan kembali bersekolah pada 1 September 2026. Namun, khusus bagi para pelajar di wilayah Kepulauan Palue, aktivitas belajar mengajar baru akan diaktifkan kembali setelah masa tanggap darurat resmi berakhir.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X