Siasati Kemarau, Petani di Sragen Alih Tanam Kacang Tanah

31 August 2026 14:26

Musim kemarau panjang yang tengah melanda tidak selalu membawa kerugian bagi sektor pertanian. Di Desa Jeruk, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, para petani memiliki cara cerdik untuk tetap produktif dengan mengubah lahan sawah yang kekeringan menjadi ladang kacang tanah.

Langkah alih tanam ini dilakukan sebagai strategi menghadapi terbatasnya pasokan air. Para petani memilih kacang tanah karena komoditas ini dikenal tangguh di lahan kering dan tidak membutuhkan banyak air dalam proses pertumbuhannya.

Harga Melonjak Dua Kali Lipat


Keputusan para petani untuk beralih ke kacang tanah berbuah manis. Di tengah cuaca terik, harga jual kacang tanah kering di pasaran justru mengalami lonjakan tajam. Jika biasanya harga berada di kisaran Rp10.000 per kilogram, kini harganya menembus angka Rp20.000 per kilogram.

Salah satu petani di Desa Jeruk, Nur Nugroho, mengungkapkan bahwa kondisi kurang hujan justru berdampak positif pada kualitas hasil panen kacang tanah.

"Kalau kurang hujan itu justru malah bagus. Kebetulan sekarang harganya lagi bagus, tidak seperti tahun-tahun kemarin. Bahkan bisa meningkat sekitar 70 persen harganya," kata Nur Nugroho, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin, 31 Agustus 2026.
 


Kelangkaan Barang di Pasar


Nur menambahkan, kenaikan harga yang signifikan ini diduga terjadi karena berkurangnya pasokan kacang tanah di tingkat petani. Banyak petani lain yang musim ini lebih memilih mencoba menanam jagung, sehingga keberadaan kacang tanah di pasar menjadi lebih sedikit.

"Mungkin tahun ini banyak sekali yang coba-coba (tanam) jagung, jadi mungkin kacang tanah agak kurang. Biasanya kalau komoditas kurang, harga pasti tinggi," imbuhnya.

Perawatan Mudah dan Efisien


Selain faktor harga yang menggiurkan, budidaya kacang tanah di musim kemarau juga dinilai lebih efisien dari sisi tenaga dan biaya. Menurut Nur, proses perawatannya cukup sederhana.

"Perawatan mudah, sebenarnya cuma menyiangi (membersihkan rumput) sama mengairi saja," ucapnya.

Fenomena di Desa Jeruk ini menjadi bukti bahwa adaptasi pola tanam terhadap kondisi alam dapat menjadi kunci bagi petani untuk tetap meraih keuntungan meski di tengah tantangan iklim. Lahan seluas kurang lebih 1.300 meter persegi yang awalnya mengering, kini sukses disulap warga menjadi ladang penghasil cuan.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X