Kemarau Panjang, Warga Makassar Antre Air Bersih

4 September 2026 14:52

Makassar: Warga di sejumlah wilayah Kota Makassar, Sulawesi Selatan, harus mengantre untuk mendapatkan pasokan air bersih di tengah musim kemarau yang berkepanjangan.

Warga terlihat membawa berbagai wadah, mulai dari jeriken hingga galon, untuk menampung air yang didistribusikan pemerintah. Kondisi tersebut terjadi seiring meningkatnya kebutuhan air bersih di sejumlah permukiman.

Merespons laporan masyarakat, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin turun langsung menyusuri lorong-lorong permukiman untuk memastikan distribusi air bersih tersalurkan kepada warga yang membutuhkan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar mencatat permintaan distribusi air bersih kini telah mencapai sekitar 50 titik dan menjangkau ribuan kepala keluarga.

Pemerintah Kota Makassar juga mengaktifkan dan mengoptimalkan sejumlah Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang telah dibangun untuk memperkuat ketersediaan air bagi masyarakat.

Selain itu, pemerintah menargetkan pembangunan 18 SPAM baru secara bertahap pada tahun ini.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengatakan pemerintah berupaya memastikan seluruh sumber air dapat terdistribusi dengan baik kepada masyarakat.

"Memastikan bahwa seluruh sumber-sumber air ini bisa terdistribusi dengan baik ke masyarakat. Yang kedua ada beberapa intervensi-intervensi yang akan kita lakukan melalui tokoh-tokoh masyarakat dengan membangun sumur bor yang lebih cepat," kata Munafri dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Jumat 4 September 2026.

Sementara itu, warga berharap pemerintah dapat segera mengatasi persoalan ketersediaan air bersih. Salah seorang warga, Sukmawati, mengatakan air dari sumur bor di wilayahnya tidak layak digunakan karena berwarna hitam dan berbau.

"Iya di sini betul-betul mengharapkan PDAM, PAM karena kalau orang bikin sumur bor airnya busuk, hitam, baru bau," ujar Sukmawati.

Menurut Sukmawati, warga terpaksa membeli air ketika pasokan air bersih tidak tersedia. Kondisi tersebut semakin menyulitkan warga karena harus membeli air dari lokasi yang cukup jauh.

"Kalau lagi kosong airnya bagaimana? Beli, kita beli air, baru jauh lagi," tuturnya.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X