17 January 2026 17:08
Sungai Ciliwung merupakan urat nadi sejarah Batavia sekaligus sumber kehidupan masyarakat yang mengalir dari Gunung Gede Pangrango hingga Teluk Jakarta sepanjang sekitar 120 kilometer. Namun, pencemaran limbah, tumpukan sampah, serta menyempitnya daerah resapan membuat sungai ini kian rentan menjadi pemicu banjir tahunan di Jakarta.
Di tengah kondisi tersebut, Yayasan Sahabat Ciliwung terus bergerak menjaga ekosistem sungai melalui berbagai kegiatan konservasi dan edukasi masyarakat. Yayasan yang berdiri sejak 2014 ini rutin melakukan pengarungan sungai, pemungutan sampah, serta sosialisasi pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian Sungai Ciliwung.
Pendiri Yayasan Sahabat Ciliwung, Hidayat, menyebut keprihatinan terhadap kondisi sungai yang semakin tercemar menjadi alasan utama berdirinya yayasan ini. Ia menegaskan, tujuan utama gerakan ini adalah mengedukasi masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah.
“Jargon kami sederhana, memerdekakan sungai dari sampah dan limbah. Kami ingin mengajak semua pihak—masyarakat, pemerintah, kampus, hingga media—untuk lebih peduli terhadap sungai,” ujarnya.
Berbagai upaya konservasi telah dilakukan, mulai dari penanaman pohon di sepanjang bantaran sungai, wisata edukatif, hingga kolaborasi dengan pemerintah dan sejumlah perusahaan. Berkat kerja bersama berbagai pihak, kualitas Sungai Ciliwung kini diklasifikasikan sebagai kelas dua oleh Kementerian Lingkungan Hidup, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan olahraga air dan wisata terbatas.
Baca juga:
Metro Community: Komunitas Indosalto Ajak Anak 5 Tahun hingga Lansia Jago Akrobatik |