Bekap Udara Berasap

19 September 2026 22:50

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat. Di Kabupaten Kubu Raya, relawan terus berjibaku memadamkan bara api yang tersimpan di dalam lahan gambut. Kondisi ini membuat api sulit terlihat dan kerap kembali muncul meski permukaan lahan telah tampak padam.

Relawan menggunakan nozzle tanam untuk menyemprotkan air hingga kedalaman sekitar satu meter guna menjangkau bara yang berada di bawah tanah. Asrul, relawan pemadaman karhutla, mengatakan alat tersebut digunakan untuk memadamkan bara yang tidak terlihat dari permukaan.

“Ini nozzle tanam. Artinya kita coba untuk memadamkan bara api di kedalaman satu meter. Karena api tidak terlihat, asapnya terlihat, tetapi baranya di dalam,” ujar Asrul dalam tayangan Realitas Metro TV, Sabtu 19 September 2026.

Proses pemadaman berlangsung melelahkan dan membuat relawan terpapar asap dalam waktu lama. Chaerun Shodiq, relawan pemadaman karhutla, mengatakan proses pemadaman dapat berlangsung lebih dari 15 menit. Selama proses tersebut, relawan kerap mengalami sesak dan gangguan pernapasan.

Relawan lainnya, Bagus, mengaku pernah mengalami sesak saat bertugas. Ia mengatakan relawan akan mundur jika kondisi tubuh mulai tidak memungkinkan untuk melanjutkan pemadaman.

“Kalau memang udah agak kurang enak untuk rasa kita, lebih baik kita mundur. Untuk menjaga keselamatan,” kata Bagus.

Ancaman asap juga dirasakan langsung oleh warga Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya. Hayati, warga setempat, mengatakan keluarganya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah karena khawatir terhadap asap karhutla. Suami dan ayahnya bahkan mengalami batuk serta sesak napas hingga harus memeriksakan diri ke puskesmas.

Selain mengganggu kesehatan, karhutla juga menghilangkan mata pencaharian warga. Kebun nanas milik Hayati yang sebelumnya siap dipanen ikut terbakar. Padahal, tanaman nanas menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.

“Iya sudah siap dipanen. Sekarang kan sudah mahal-mahalnya, sudah kebakaran habis semua. Sedihlah, itu kan mata pencaharian kita satu-satunya,” ujar Hayati.

Dampak kesehatan akibat kabut asap juga terlihat di Kota Pontianak. Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA selama periode kabut asap. Wahyudi, Kabid P3PL Dinas Kesehatan Kota Pontianak, mengatakan kasus harian ISPA yang dilaporkan melalui puskesmas sempat mencapai sekitar 400 kasus per hari.

“Memang ada peningkatan yang cukup signifikan terkait dengan kasus-kasus ISPA yang dilaporkan melalui puskesmas yang ada di Kota Pontianak,” ujar Wahyudi.

Puskesmas Khatulistiwa juga mencatat tren peningkatan kasus ISPA dalam tiga bulan terakhir. Hakimah, Kepala Puskesmas Khatulistiwa, mengatakan jumlah pasien ISPA meningkat dari Juli hingga September, dengan rata-rata sekitar 15 pasien ISPA per hari.

Bara yang tersimpan di dalam gambut terus mengancam keselamatan relawan, sementara asap berdampak terhadap kesehatan warga dan kebakaran turut menghancurkan sumber mata pencaharian. Penanganan karhutla pun tidak hanya membutuhkan pemadaman, tetapi juga upaya mengungkap penyebab dan pihak yang bertanggung jawab agar kejadian serupa tidak terus berulang.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X