21 August 2026 12:53
Jakarta: Bank Indonesia kembali menggelar Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 pada 20-23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”, KKI tahun ini mendorong UMKM untuk naik kelas hingga menembus pasar global.
Kepala Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia Anastuty K mengatakan KKI tidak sekadar menjadi ajang penjualan produk UMKM, tetapi diarahkan untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha agar mampu naik kelas.
“KKI ini bukan hanya masalah retail, bukan masalah penjualan, tapi bagaimana mereka semakin bisa kuat. Kuat itu adalah bagaimana mereka bisa masuk ke akses pasar yang lebih luas, dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Anastuty dalam tayangan Zona Bisnis Metro TV, Jumat 21 Agustus 2026.
Menurut Anastuty, akses pembiayaan menjadi salah satu tantangan utama UMKM saat ini. Ia menyebut pertumbuhan kredit UMKM hanya mencapai 1,05 persen, bahkan sempat mengalami pertumbuhan negatif dalam beberapa bulan sebelumnya.
“Kondisinya sekarang ini memang cukup memprihatinkan karena pertumbuhan kredit UMKM itu turun jauh sekali,” katanya.
Anastuty menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena UMKM memiliki peran besar dalam perekonomian nasional, terutama dalam penyerapan tenaga kerja.
“UMKM itu kan penopang ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dan mereka adalah yang paling menyerap tenaga kerja paling banyak,” ujarnya.
Di tengah kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang menurun, BI berupaya mendorong pelaku UMKM tetap bertahan sekaligus melakukan ekspansi. Anastuty mengatakan pengembangan UMKM tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
“Membina atau mengembangkan UMKM itu nggak bisa sendirian,” katanya.
Karena itu, KKI 2026 menjadi salah satu bentuk sinergi BI dengan berbagai pihak. Tahun ini, BI bekerja sama dengan 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis.
“KKI ini salah satu bentuk sinergi. Jadi yang tahun ini kita bekerja sama dengan 27 kementerian dan lembaga, dan juga ada 34 mitra strategis,” ujar Anastuty.
Selain memperluas pasar domestik, BI juga mendorong UMKM menembus pasar internasional. Langkah tersebut dilakukan melalui keikutsertaan UMKM dalam berbagai pameran di luar negeri serta pendampingan terhadap pelaku usaha.
“Alhamdulillah dengan kita konsisten juga membawa mereka ke berbagai event ekspo di luar negeri, itu sudah ada UMKM yang sudah bisa menancapkan kakinya di sana,” katanya.
Anastuty menekankan pentingnya menjaga kualitas dan komitmen setelah produk UMKM berhasil masuk pasar luar negeri. Menurutnya, keberhasilan UMKM di pasar global juga membawa nama Indonesia.
“Once produk Bapak Ibu itu sampai ke luar negeri, artinya sebenarnya sudah jadi duta besar. Karena yang dibawa bukan UMKM Indonesia, tapi Indonesianya,” ujarnya.
BI juga menggandeng kementerian lain untuk memperkuat program pengembangan UMKM. Salah satunya melalui Export Coaching Program bersama Kementerian Perdagangan untuk mempersiapkan pelaku usaha agar mampu melakukan ekspor.
“Kita coba masukin juga program pedoman UMKM go export kita,” kata Anastuty.
Sementara bersama Kementerian Perindustrian, BI menjalankan sinergi melalui program Citra Nusa.
“Kemudian kita juga dengan Kementerian Perindustrian, ini ada championship namanya Citra Nusa. Nanti 20 besarnya itu akan kita masukkan ke balai diklat industri. Jadi which is ya kita sinergi di situ gitu ya. Kalau dengan kementerian luar negeri tentu melalui KBRI-KBRI ya di wilayah kerja teman-teman kantor perwakilan, kita bantu juga promosi perdagangan yang mereka memang ingin ikut. Kami selalu bilang anggap saja 3.000 ini adalah piloting untuk skala nasional gitu karena kita sudah tahu hasilnya baik, kemudian kita sharing gitu. Jadi seperti itu. Itu juga dilakukan oleh teman-teman di kantor perwakilan dalam negeri seperti itu,” jelasnya.
Tak hanya soal ekspor, BI juga meminta pelaku UMKM menyesuaikan harga dengan kondisi daya beli masyarakat saat ini.
“Ini kondisi ekonomi dan rendahnya daya beli masyarakat, tentunya Bapak Ibu nggak bisa bertahan di margin selebar itu,” ujar Anastuty.
Ia berharap pelaku UMKM tetap memperoleh keuntungan, tetapi menjaga harga agar produknya tetap dapat dijangkau konsumen.
“Please marginnya itu agak dipertimbangkan supaya orang tetap bisa beli,” katanya.
Pada KKI 2026, BI juga membawa pendekatan baru dengan menyasar konsumen muda, khususnya Gen Z. Anastuty mengatakan selama ini KKI cukup kuat dengan citra wastra, tetapi perlu dilakukan penyesuaian agar semakin relevan dengan generasi muda.
“Untuk tahun 2026 sendiri, keterbaruannya adalah kita mau mem-branding KKI ini juga untuk bisa masuk ke anak-anak muda,” ujarnya.