Memasuki hari keempat bulan suci Ramadan, suasana di Jalur Gaza, Palestina masih diliputi keprihatinan mendalam. Meski umat Muslim di berbagai belahan dunia menjalankan ibadah dengan tenang, warga Gaza justru harus berpuasa di tengah ancaman serangan yang terus berlanjut dan krisis logistik.
Gencatan Senjata yang Hanya di Atas Kertas
Meskipun diberlakukannya gencatan senjata, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang kontradiktif. Anggota tim medis EMT
Mer-C ke-12 yang bertugas di Gaza, M Reynaldi melaporkan bahwa suara drone masih sering terdengar mengelilingi pemukiman dan tempat kerja warga.
"Kita masih dapat menemukan berbagai korban dari serangan para penjajah. Kami masih mendengar suara bom, tembakan, dan pesawat tempur di atas kami," ujar Reynaldi.
Menurutnya, pemberlakuan gencatan senjata tidak sesuai dengan kenyataan karena serangan masih kerap menargetkan warga sipil Palestina di saat yang seharusnya menjadi waktu bagi mereka untuk beribadah dengan khusyuk.
Krisis Air Bersih dan Pangan
Selain ancaman militer, warga Gaza menghadapi tantangan berat dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk sahur dan buka puasa. Logistik utama seperti makanan, obat-obatan, dan terutama air bersih, sangat sulit didapatkan.
Reynaldi mengungkapkan bahwa air yang keluar dari keran warga memiliki rasa asin yang pekat karena bercampur dengan air laut, sehingga tidak layak konsumsi.
"Untuk air, kita sangat membutuhkan bantuan dari truk-truk air bersih yang diberikan oleh NGO (Non-Government Organization)," jelasnya.
Terkait pasokan makanan, tahun ini merupakan kali pertama beberapa jenis makanan mulai muncul di pasar jika dibandingkan dengan Ramadan sebelumnya yang selalu diwarnai serangan besar-besaran. Namun, sebagian besar warga tetap menggantungkan hidup pada bantuan pangan yang dikelola oleh berbagai NGO internasional, termasuk dari Mer-C.
Kondisi yang paling menyentuh perhatian adalah ketahanan anak-anak di Gaza. Reynladi menyaksikan bahwa anak-anak di sana seolah telah terbiasa dengan rasa lapar karena mereka telah melewati fase kelaparan selama konflik dua tahun terakhir.
Meski dalam kondisi serba terbatas, antusiasme warga untuk merayakan Ramadan tetap terlihat di beberapa sudut jalan melalui kemunculan budaya lokal, seperti tradisi membangunkan sahur dan hiasan pernak-pernik Ramadan, meski dalam jumlah yang terbatas.