NEWSTICKER

Potret Kerukunan Umat Beragama di Tanah Serambi Mekkah

N/A • 26 May 2023 09:11

Dikenal dengan Tanah Serambi Mekkah yang mayoritas masyarakatnya muslim, Provinsi Aceh juga ditinggali ribuan etnis Tionghoa yang beragama non muslim. Di tengah perbedaan agama dan budaya yang signifikan, etnis Tionghoa tetap merasakan kenyamanan dan kerukunan tinggal di Aceh.

Sejak abad ke 17, masyarakat Aceh hidup berdampingan dengan warga etnis Tionghoa. Perbedaan agama dan budaya tidak menghalangi atau mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari. 

Di Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh, terdapat sedikitnya 3.500 warga etnis Tionghoa yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang secara turun temurun. Mereka hidup nyaman dan rukun berbaur dengan masyarakat lokal, serta bebas melaksanakan ibadah sesuai kepercayaan masing-masing. 

Buktinya, tempat-tempat ibadah seperti vihara dan gereja berdiri di tengah pusat Ibu Kota Banda Aceh. Bahkan lokasinya tidak terpaut jauh dengan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. 

Salah satu warga etnis Tionghoa di Aceh, Harianto atau yang akrab disapa Acong, mengaku merasa sangat nyaman tinggal di Aceh. Meski menjadi warga minoritas, ia tidak pernah menerima gangguan atau penolakan untuk bekerja maupun beribadah.  

Meski berbagai kebebasan diberikan kepada warga Tionghoa di Aceh untuk beribadah maupun berkegiatan sesuai kebudayaannya, pemerintah dan tokoh ulama di Aceh selalu memberikan imbauan agar tetap menjaga kearifan lokal serta menghargai aturan-aturan yang ada di Aceh. 

Menurut tokoh ulama Aceh, Tgk. Faisal Ali, selama ini masyarakat Aceh bisa hidup rukun berdampingan dengan warga Tionghoa karena saling menjaga toleransi dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Hal ini terus terpelihara sehingga berbagai kegiatan keagamaan hingga perayaan hari besar warga non muslim terlaksana dengan aman dan nyaman.

Salah satu tempat tinggal dan pusat perdagangan warga etnis Tionghoa di Banda Aceh terletak di kawasan Peunayong, yang disebut sebagai pecinan Aceh. Toleransi yang terjaga juga membuat kawasan ini disebut sebagai Desa atau Gampong Keberagaman, karena mempertemukan warga etnis Tionghoa dan masyarakat lokal Aceh dalam berbagai aktifitas khususnya perdagangan.
(Silvana Febriari)

Tag