Jakarta: Nama negara ternyata bisa berubah seiring perjalanan sejarahnya. Perubahan ini bukan sekadar mengganti sebutan, tetapi bisa menjadi cara untuk menegaskan identitas nasional, melepaskan warisan kolonial, atau menandai perubahan politik.
Sejumlah negara bahkan memiliki nama yang berbeda dari yang dikenal dunia puluhan tahun lalu.
8 Negara yang Pernah Mengganti Nama
Berikut delapan negara yang pernah mengganti nama dan alasan di balik perubahan tersebut.
1. Turki menjadi Turkiye (2022)
Pada 2022, Turki secara resmi meminta
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggunakan nama Türkiye untuk menggantikan Turkey dalam bahasa Inggris. Perubahan ini bertujuan memperkuat identitas nasional dan penggunaan nama yang sesuai dengan penyebutan dalam bahasa Turki. Kesamaan kata Turkey dengan sebutan bahasa Inggris untuk kalkun juga kerap menjadi sorotan, tetapi bukan satu-satunya penjelasan resmi perubahan tersebut.
2. Swaziland menjadi Eswatini (2018)
Pada April 2018, Raja Mswati III mengumumkan perubahan nama Swaziland menjadi Eswatini. Nama Eswatini berarti kurang lebih “tanah orang Swazi” dalam bahasa setempat. Perubahan ini menegaskan identitas lokal negara tersebut setelah lama dikenal dengan nama berbahasa Inggris yang digunakan pada masa kolonial.
3. Zaire kembali menjadi Republik Demokratik Kongo (1997)
Negara di Afrika Tengah ini sebelumnya dikenal sebagai Kongo, lalu berganti nama menjadi Zaire pada 1971 ketika dipimpin Mobutu Sese Seko. Setelah rezim Mobutu tumbang pada 1997, nama negara tersebut diubah kembali menjadi Republik Demokratik Kongo. Perubahan ini menandai berakhirnya pemerintahan Mobutu sekaligus perubahan politik di negara itu.
4. Burma menjadi Myanmar (1989)
Pada 1989, pemerintahan militer mengganti nama resmi berbahasa Inggris dari Burma menjadi Myanmar. Pemerintah saat itu menyatakan perubahan tersebut bertujuan menggunakan nama yang dianggap lebih sesuai dengan bahasa setempat dan mencerminkan keberagaman penduduk. Namun, keputusan ini menuai kontroversi karena dilakukan oleh rezim militer tanpa persetujuan melalui referendum nasional. Hingga kini, penggunaan nama Burma dan Myanmar juga memiliki konteks politik tersendiri.
5. Rhodesia menjadi Zimbabwe (1980)
Zimbabwe menggunakan nama Rhodesia sebelum merdeka pada 1980. Nama Rhodesia berasal dari Cecil Rhodes, tokoh kolonial Inggris yang berperan dalam ekspansi kekuasaan Inggris di kawasan tersebut. Ketika meraih kemerdekaan, negara itu menggunakan nama Zimbabwe, yang merujuk pada situs bersejarah Great Zimbabwe, peninggalan peradaban Afrika yang menjadi simbol warisan sejarah masyarakat setempat.
6. Ceylon menjadi Sri Lanka (1972)
Sri Lanka dahulu dikenal luas dengan nama Ceylon, termasuk pada masa pemerintahan kolonial Inggris. Pada 1972, negara tersebut menjadi republik dan menggunakan nama Sri Lanka. Pergantian nama ini menjadi bagian dari perubahan konstitusi dan penegasan identitas nasional setelah masa kolonial. Nama Ceylon masih dapat ditemukan dalam sejumlah produk, termasuk teh yang dikenal secara internasional.
7. Siam menjadi Thailand (1939)
Thailand sebelumnya dikenal sebagai Siam. Pada 1939, nama negara tersebut diubah menjadi Thailand sebagai bagian dari upaya menegaskan identitas nasional. Nama Siam sempat digunakan kembali setelah perubahan politik pada 1940-an, sebelum Thailand kembali menjadi nama resmi pada 1949. Thailand juga dikenal sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah secara resmi dijajah oleh kekuatan Eropa.
8. Persia menjadi Iran (1935)
Pada 1935, pemerintah Iran meminta negara-negara lain menggunakan nama Iran untuk menyebut negaranya dalam komunikasi resmi internasional. Sebelumnya, dunia Barat lebih umum mengenalnya sebagai Persia. Nama Iran telah lama digunakan oleh masyarakat setempat dan dipilih untuk menegaskan identitas historis negara tersebut. Karena itu, perubahan ini bukan berarti nama Iran baru muncul pada 1935, melainkan penggunaan nama tersebut secara lebih luas dalam hubungan internasional.
Mengapa Negara Mengganti Nama?
Dari delapan contoh tersebut, terlihat bahwa pergantian nama negara bisa dilatarbelakangi berbagai hal, antara lain:
- Menegaskan identitas nasional, seperti Turkiye dan Eswatini.
- Meninggalkan warisan kolonial, seperti Zimbabwe dan Sri Lanka.
- Menandai perubahan politik, seperti Republik Demokratik Kongo.
- Menggunakan nama yang dianggap lebih sesuai dengan sejarah atau bahasa lokal, seperti Iran.
Nah, pergantian nama negara ternyata bukan sekadar urusan sebutan. Di baliknya, ada sejarah, identitas, dan keputusan politik yang membentuk cara sebuah negara ingin dikenal dunia. Dari delapan negara tadi, perubahan nama mana yang menurut kamu paling menarik?
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)