Surabaya: Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, permintaan pernak-pernik hiasan merah putih berbahan daur ulang plastik di Kampung Gunung Anyar Tengah, Surabaya, melonjak tajam. Pesanan berbagai ornamen bertema kemerdekaan meningkat hingga 70 persen dibandingkan hari biasa.
Beragam hiasan seperti bunga merah putih hingga ornamen dekorasi Agustusan diproduksi oleh para pengrajin untuk memenuhi tingginya permintaan masyarakat. Produk-produk tersebut dibuat dari limbah plastik kresek dan gelas plastik bekas yang diolah menjadi kerajinan bernilai ekonomi.
Peningkatan pesanan turut mendorong kapasitas produksi. Jika pada hari biasa pembuatan kerajinan dilakukan berdasarkan pesanan, menjelang bulan kemerdekaan para pengrajin mampu memproduksi sekitar 200 pernak-pernik setiap hari.
Pengrajin, Anik Islachah, mengatakan usaha tersebut bermula dari keinginannya mengolah limbah plastik menjadi produk yang lebih bermanfaat. Respons masyarakat yang positif membuat penjualan terus meningkat, bahkan menjangkau berbagai daerah di luar Surabaya.
"Kegiatan ini sebenarnya awalnya dari daur ulang kresek. Ternyata hasilnya bagus, lalu saya coba promosi lewat media sosial. Alhamdulillah penjualannya meningkat banyak," kata Anik.
Menurut Anik, pemasaran secara daring menjadi salah satu faktor yang memperluas jangkauan pasar. Pesanan kini tidak hanya datang dari Surabaya dan sekitarnya, tetapi juga dari sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Wonogiri dan Purbalingga.
"Saya coba live, banyak yang pesan dari Wonogiri dan Purbalingga. Awalnya pakai kresek dan gelas bekas, tapi karena permintaan meningkat, sekarang sebagian bahan juga harus dibeli supaya produksi tetap berjalan," ujarnya.
Harga setiap produk dibanderol mulai Rp2.250 hingga Rp7.000 per buah, tergantung jenis dan tingkat kerumitan pembuatannya. Selain menghasilkan keuntungan bagi pelaku usaha, aktivitas ini juga membuka peluang tambahan penghasilan bagi ibu-ibu PKK yang terlibat dalam proses produksi.
Salah seorang pembeli, Rofik, mengaku tertarik membeli dekorasi tersebut karena memiliki desain yang unik sekaligus ramah lingkungan.
"Bagus, kreatif juga, inovatif. Momennya pas untuk persiapan 17-an. Modelnya unik dan saya juga melihat hasilnya dipakai saudara di Wonogiri, jadi saya tertarik memasangnya juga," tutur Rofik.
Melalui kreativitas mengolah sampah plastik menjadi produk dekorasi bernilai jual, para pengrajin di Kampung Gunung Anyar Tengah tidak hanya memanfaatkan momentum perayaan kemerdekaan untuk meningkatkan pendapatan, tetapi juga turut berkontribusi mengurangi limbah plastik melalui pemberdayaan masyarakat.