5 May 2026 21:48
Upaya diplomasi damai di Timur Tengah kembali menemui jalan buntu setelah Presiden AS, Donald Trump, menolak proposal perdamaian tiga tahap dari Iran. Meski Iran menawarkan gencatan senjata 30 hari dan pembatasan pengayaan uranium, Washington menilai skema tersebut belum menjamin keamanan strategis sekutunya.
Presiden Trump menegaskan bahwa AS tidak akan terburu-buru meninggalkan kawasan jika belum ada kesepakatan yang permanen. Merespons hal itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan Teheran tidak akan mundur dalam mempertahankan program nuklir dan kedaulatan teknologinya.
Ketegangan kini meluas ke jalur maritim melalui operasi Project Freedom AS di Teluk Persia. Langkah ini memicu reaksi keras dari Korps Garda Revolusi Iran yang memperketat kontrol atas Selat Hormuz. Di tengah blokade tersebut, kapal supertanker Deria dilaporkan berhasil menembus barikade dan terpantau memasuki wilayah Indonesia melalui Selat Lombok.
Dampak konflik ini turut mengguncang hubungan transatlantik. Rencana penarikan 5.000 tentara AS dari Jerman memicu perselisihan antara Trump dan Kanselir Jerman, Fredic M., yang menilai AS telah dipermalukan oleh Iran dalam negosiasi.
Hingga kini gencatan senjata di Selat Hormuz hanyalah jeda tanpa arah negosiasi yang jelas. Lantas sampai kapan adu urat saraf ini akan terus dipertontonkan di jalur urat nadi dunia?