3 November 2026 16:05
Jakarta: Museum Nasional Indonesia bersama Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) dan Indonesian Heritage Agency (Museum dan Cagar Budaya) menggelar pameran topeng tradisional bertajuk ‘Dua Wajah Satu Jiwa’. Pameran ini mengajak pengunjung untuk mengenal kedekatan dan persamaan budaya antara Korea dan Indonesia melalui karya seni topeng dan pengalaman visual imersif.
Berlangsung sejak 26 Oktober 2026 hingga 31 Januari 2027, pameran ini menampilkan total 28 koleksi, yang terdiri dari 18 topeng Korea dan 10 topeng Indonesia. Dua di antara koleksi ikonik yang dipamerkan adalah topeng Yangban dari Korea dan topeng Panji Asmorobangun dari Indonesia. Meski memiliki bentuk dan motif yang berbeda, topeng-topeng tersebut sarat akan filosofi yang mencerminkan nilai budaya serta kehidupan masyarakat di masing-masing negara.
Staf KCCI, Anisa Permata Sari, menjelaskan bahwa pameran ini menawarkan pengalaman lebih dari sekadar melihat koleksi fisik.
“Di pameran ini tidak hanya ada pameran topeng fisik Indonesia dan Korea, lalu ada juga pameran imersif, yakni sesi pengalaman interaktif,” ujar Anisa dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Selasa 3 November 2026. .
Melalui Ruang Imersif A di Museum Nasional Indonesia, pengunjung disuguhkan pertunjukan audio visual selama kurang lebih 10 menit. Teknologi ini membawa pengunjung menjelajahi sejarah dan makna budaya topeng Korea serta Indonesia secara lebih mendalam dan modern.
Konsep pameran ini berhasil menarik minat pengunjung lokal maupun mancanegara. Tristanti, salah satu pengunjung, mengaku terkesan dengan narasi edukatif yang disajikan dalam pameran tersebut.
"Ini kali pertama kita melihat bahwa ada banyak filosofi tentang topeng, terutama Korea yang baru saya tahu. Saya terkesan dengan narasi dan keterangan penceritaan yang ada di bawah topeng tentang karakter-karakter manusia," ungkap Tristanti.
Pameran ‘Dua Wajah Satu Jiwa’ diharapkan dapat menjadi sarana apresiasi seni sekaligus ruang pertukaran budaya yang mengenalkan warisan tradisional kedua negara. Bagi masyarakat yang ingin berkunjung, pameran ini dapat dinikmati hanya dengan membeli tiket reguler Museum Nasional Indonesia tanpa adanya pungutan biaya tambahan.